Jumat, 25 Mei 2012
Pedagang Merugi Aibat Harga Jagung Turun
Sabtu, 17 Juli 2010 08:50
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 17/7 (SIGAP) - Harga jagung di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memasuki musim panen turun sehingga kalangan pedagang mengalami kerugian yang cukup signifikan. Harga jagung di Gunung Kidul saat ini hanya Rp2.200 per kilogram, padahal sebelumnya mencapai Rp2.350 per kilogram, kata salah satu pengepul jagung, Atma Sukarta di Wonosari, Jumat.

Dirinya mengatakan, harga jagung yang mengalami penurunan membuat para pedagang merugi karena stok jagung yang sudah menumpuk belum diambil pelanggan sehingga harus disesuaikan dengan harga baru.

"Saya merugi karena jagung yang kemarin dibeli harus disesuaikan dengan harga sekarang yang selisihnya hampir Rp200 per kilogram," katanya.

Meskipun harga jagung turun, katanya, permintaan pembeli tidak mengalami kenaikan. "Permintaan masih stabil seperti sebelum ada penurunan harga jagung di pasaran. Bahkan diprediksi permintaan masih sepi hingga menjelang puasa," katanya.

Sementara itu harga kedelai lokal di pasaran di Gunung Kidul juga mengalami penurunan signifikan dari Rp4.800 per kg menjadi Rp4.500 per kg akibat masuknya kedelai impor yang kualitasnya lebih bagus dan biji utuh.

"Kedelai lokal kalah bersaing dengan kedelai impor sehingga harganya turun. Kedelai impor dijual sama dengan harga kedelai lokal sehingga konsumen lebih memilih membeli kedelai impor karena kualitasnya lebih bagus," kata pedagang kedelai di Gunung Kidul, Tri Nugroho.

Harga gaplek di kabupaten ini, katanya, juga terus mengalami penurunan signifikan dari sebelumnya antara Rp1.650 per kg hingga Rp1.700 per kg menjadi Rp1.400 per kg menyusul datangnya musim panen ketela di beberapa daerah.

"Harga gaplek mulai turun karena memasuki musim panen, tetapi untuk tahun ini sepertinya stok gaplek tidak seperti tahun lalu," katanya.

Stok gaplek tahun ini, katanya, diperkirakan tidak akan melimpah seperti tahun sebelumnya karena ada pabrik yang langsung membeli ketela dari kalangan petani.

"Stok gaplek tahun ini sepertinya tidak seperti tahun kemarin karena sudah ada beberapa truk yang mengambil ketela langsung dari ladang petani dengan harga Rp600 per kilogram," katanya.
Seperti waktu-waktu sebelumya, kondisi cuaca yang tidak menentu membuat sebagian besar petani dan pedagang gaplek di Gunungkidul khawatir. Pasalnya, jika turun hujan, produksi gaplek dipastikan akan turun drastis.

Sejak tahun-tahun terakhir, permintaan gaplek daerah luar daerah bahkan luar negeri tengah tinggi.

Di tingkat petani dan pedagang pengepul, harga gaplek juga terus naik. Di tingkat petani, harga gaplek dalam kondisi kering naik dari semula Rp450, naik hingga Rp600, sedangkan untuk ekspor harganya bisa sampai Rp1.000 hingga Rp3.000, demikian pantauan SIGAP (laporan wa prasetya /ant)

 

Arsip Berita