Jumat, 25 Mei 2012
Pengrajin Anyaman Bambu Sulit Dapatkan Bahan Baku
Jumat, 16 Juli 2010 03:41
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 16/7 (SIGAP) - Pengrajin anyaman bambu Desa Sumurboto, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, mengeluh akibat sulit mendap

atkan bahan baku bambu sehingga produksinya terbatas.

Suparjan (47), pengrajin Desa Sumurboto, Rabu, mengatakan, berbagai cara dilakukan untuk mengatasi kesulitan bahan baku, termasuk mendatangkan bahan baku dari luar daerah agar para pengrajin anyaman bambu masih tetap bertahan, meski hanya dijadikan sebagai usaha sampingan.

Pada musim hujan, lanjutnya, sebagian pengrajin memilih bercocok tanam dibandingkan tetap menggeluti usaha kerajinan bambu. "Kalaupun masih ada yang membuatnya hanya disesuaikan dengan jumlah pesanan," katanya.

Saat musim kemarau dan sawah tidak lagi bisa ditanami karena air irigasi mengering, maka sebagian warga sibuk mengayam bambu.

Produk yang dihasilkan di antaranya bakul berukuran kecil dan besar, serta jenis kerajinan lainnya.

Berdasarkan data dari Desa Sumurboto, setidaknya ada 223 pengrajin anyaman bambu, atau hampir separuh dari jumlah keluarga di desa tersebut sebanyak 545 KK.

Menurut Suparjan, banyak pengepul dari luar daerah yang datang ke desanya untuk kulakan anyaman bambu saat musim kemarau, antara lain dari Rembang, Kudus, Ngawi, Tuban, dan Bojonegoro.

"Biasanya pengepul itu datang memborong kerajinan bambu yang diproduksi warga sini. Rata-rata dari mereka sudah mempunyai langganan sendiri," tandasnya.

Satu dari sekian banyak pengrajin di Sumurboto yang kerap didatangi pengepul adalah Jarmi (74). Nenek empat orang cucu itu memilih tetap membuat kerajinan di saat sebagian pengrajin lainnya turun ke sawah. Usia yang sudah udzur membuatnya lebih memilih bekerja di dalam rumah dibanding menggarap sawah.

"Saya sudah tua, memilih mengayam bambu saja," katanya.

Menurutnya, masalah utama yang dihadapi pengrajin adalah sulitnya mendapatkan bahan baku. Untuk menyiasatinya beberapa pengrajin mendatangkan bambu dari luar Blora.

"Meski harganya mahal, terpaksa kami beli," katanya. Jarmi menambahkan, sebatang bambu dibeli seharga Rp7.000 hingga Rp11.000.

Menurutnya, sebatang bambu bisa menghasilkan maksimal 10 bakul kecil atau lima hingga tujuh bakul berukuran besar.

Waktu yang dihabiskan untuk membuat bakul tersebut cukup lama yaitu 2 hingga 4  hari, terbanyak dihabiskan untuk mengeringkan serutan bambu.

"Menganyamnya juga harus telaten kalau ingin hasilnya bagus," katanya.

Harga jual kerajinan tangan tersebut bervariasi yaitu satu buah keranjang dijual Rp3.500-Rp4.000, bakul kecil Rp2.000, dan bakul besar Rp5.000/buah.

"Pembeli yang datang biasanya membeli banyak. Mereka rata-rata dari luar Blora, biasanya mereka datang seminggu sekali," tambahnya.

Di Jawa Barat Aneka kerajinan bambu dari wilayah Kelurahan Karadenan dan Sukahati Bogor relatif tidak masalah, karena wilayah tersebut sejak tahun 60-an sudah terkenal sebagai sentra industri kecil berbahan baku bambu.

Di daerah Karadenan dan Sukahati dengan mudah bisa kita temukan hutan-hutan bambu. Saat ini walaupun kerajinan bambu bukan lagi menjadi mata pencaharian utama di dua Kelurahan tersebut, masih banyak ditemukan puluhan pengrajin bambu khususnya di Kampung Pajeleran, Kampung Muara beres di Kelurahan Sukahati dan Kampung Pisang di Kelurahan Karadenan.

Yang menarik adalah di sentra produksi bambu ini telah berkembang dengan pola pembiayaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM).

”Kami sudah menyalurkan bantuan ekonomi bergulir kepada 12 KSM dengan total bantuan langsung masyarakat (BLM) Rp. 63 juta” Ungkap Ete Kura Karesina salah satu anggota Unit Pengelola Keuangan (UPK) BKM ketika diwawancara oleh Media Warga Online. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita