Jumat, 25 Mei 2012
Sragen Dikembangkan Jadi Kabupaten Gaharu
Jumat, 16 Juli 2010 03:13
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 16/7 (SIGAP) - Kabupaten Sragen, Jawa Tengah akan dikembangkan sebagai daerah penghasil kayu gaharu (Aquilaria malaccensis) sehingga suatu saat bisa diidentikkan sebagai kabupaten gaharu.

"Saat ini Sragen memiliki tanah yang potensial menjadi tempat budi daya pohon gaharu. Hal tersebut sudah terbukti di Kecamatan Kedawung, SMK Pertanian Kedawung berhasil membudidayakan tanaman tersebut," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Kabupaten Sragen Darmawan Minto Basuki di Sragen, Rabu.

Menurutnya, tanaman gaharu dapat menjadi potensi unggulan di kabupaten tersebut selain padi organik, garut, jagung, kacang tanah, maupun ikan lele.

"Saat ini kayu gaharu merupakan komoditas hasil hutan bukan kayu komersial yang bernilai tinggi. Pohon kayu gaharu tersebut dimanfaatkan untuk bermacam-macam hal, seperti pembuatan kosmetik, parfum, dan obat-obatan," katanya.

Bahkan, lanjutnya, harga minyak atsiri dari kayu gaharu sendiri dapat mencapai Rp300 juta setiap liter.

Oleh karena itu, dirinya mengatakan, saat ini Pemerintah Kabupaten Sragen akan mendorong warganya yang menjadi petani untuk mulai menanam kayu gaharu tersebut.

"Melalui SMK Pertanian Kedawung kami akan membantu masyarakat untuk mengembangkan potensi tersebut, melalui penyediaan bibit dan penyuluhan cara penanaman, serta perawatan tanaman tersebut," kata Darmawan.

Senada dengan itu, Mantan Direktur Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Kementerian Dalam Negeri, Sudarsono Hardjosoekarto mengatakan, Sragen memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kabupaten gaharu karena memiliki struktur tanah dan iklim yang cocok untuk budi daya tanaman gaharu.

"Saat ini wilayah Indonesia sebenarnya potensial untuk pengembangan tanaman tersebut. Akan tetapi hingga saat ini produksi hasil kayu gaharu hanya didapatkan dari tanaman liar di dalam hutan Kalimantan dan Papua," katanya.

Untuk pohon gaharu yang tumbuh secara liar di hutan, menurutnya, hanya dapat dipanen saat pohon berada kisaran umur 8 hingga 9 tahun.

"Untuk tanaman budi daya sendiri, pohon gaharu sudah bisa dipanen saat berumur empat hingga lima tahun. Oleh karena itu, produksi kayu gaharu di Indonesia dapat lebih tinggi jika pembudidayaan tanaman tersebut lebih digalakkan," jelas Sudarsono.

Dengan harga jual tinggi di sejumlah negara di Eropa dan Asia Timur, menurut Sudarsono, budi daya kayu gaharu menjadi sektor yang perlu digarap di Indonesia.

"Sektor ini dapat menjadi pendukung pada upaya mengidentikkan Sragen sebagai daerah agraris yang produktif, termasuk sebagai daerah penghasil kayu gaharu," kata Sudarsono.

GAHARU merupakan tanaman yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi, hampir semua bagian pohon gaharu ini dapat dimanfaatkan untuk bahan baku produk, praktis tidak ada bagian yang terbuang.

Kayu gaharu yang terinfeksi atau disebut gubal mempunyai nilai jual yang sangat tinggi, sementara gubal gaharu kualitas rendah dapat disuling untuk produksi minyak dengan harga yang sangat menjanjikan.

Daun gaharu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan teh gaharu. Turunan produk gaharu pun semakin hari semakin meningkat variasinya, menempatkan pohon gaharu sebagai pohon industri. Manfaat gaharu diantaranya adalah pewangi rungan, bahan baku industri parfum ekslusif, bahan baku industri kosmetika, bahan baku untuk bahan obat (kanker, asmatik, perangsang, dll), bahan HIO (untuk ritual agama hindu, budha dan Kong Hu Chu), bahan Kohdoh (jepang), serta daunnya dimanfaatkan untuk teh hijau (agarwood tea).

Harga gubal gaharu bervariasi tergantung grade(kualitas), harga gubal gaharu grade super di pasar lokal mencapai Rp 25 juta/kg, sedangkan harga terendah Rp 50 ribu/kg untuk kayu gaharu yang tidak mengandung resin sama sekali.

Negara potensial pemakai gaharu (pengimpor) adalah Saudi Arabia, Kuwait Yaman, Unites Emirat, Turki, Singapura, Jepang, dan Amerika. Kebutuhan gaharu dari tahun ke tahun terus meningkat berbanding lurus dengan harganya. (laporan wa prasetya/ant)

 

 

Arsip Berita