Jumat, 25 Mei 2012
SKP BSB: Peta Gempa Indonesia Terbaru Dipaparkan Di Istana
Kamis, 15 Juli 2010 17:58
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/7 (SIGAP)- Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB), Andi Arif, Jum’at (16/7) siang ini mengundang Tim Nasional penyusun peta gempa Indonesia terbaru untuk memaparkan hasil karyanya di Istana Negara, Bina Graha, Jakarta.

Seperti diketahui, tim yang terdiri dari sembilan pakar gempa seluruh Indonesia dan ditambah dua orang dari berbagai bidang ini telah merampungkan penyusunan peta gempa Indonesia yang terbaru. Sebelumnya, peta terbaru yang dinamai Probabilistic Seismic Hazard  Analysis (PSHA) Map ini telah resmi ditandatangin oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto pada Kamis, 1 juli lalu.

Peta teranyar ini merupakan peta percepatan tanah maksimum di batuan dasar sebagai akibat gempa pada suatu wilayah oleh suatu sumber gempa tertentu. Diharapkan peta ini dapat bermanfaat untuk keperluan perancangan bangunan tahan gempa, jembatan, perencanaan wilayah, dan lain sebagainya.

Jum'at siang ini peta terbaru ini akan dipresentasikan dihadapan petinggi kementerian dan lembaga pemerintah, sipil dan militer, yang terkait dengan penanganan kebencanaan, seperti Badan Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI Angkatan Darat, BMKG, Bappenas dan LIPI.

Erick Ridzky, Ketua Panitia Presentasi Peta Gempa Terbaru Indonesia, yang juga Asisten SKP BSB, mengatakan, penyusunan peta gempa tersebut dilandaskan pada catatan tentang peristiwa gempa di berbagai wilayah yang disebabkan oleh sumber-sumber gempa tertentu. Menariknya, peta ini memuat informasi detail mengenai sesar aktif yang bersemayam di bawah bumi berbagai wilayah Indonesia.

“Tim Sembilan telah memetakan sesar di Sumatera dengan baik, Khusus mengenai sesar di Jawa, tim juga memberikan informasi yang cukup mengenai sesar  Cimandi, sesar Lembang, Sesar Opak, Sesar Lasem dan Pati,” jelas Erick.

Meski demikian, Tim Sembilan yang diketuai Prof. Masyhur Irsyam (Teknik Sipil ITB) mengakui masih adanya kekurangan dalam peta ini. Diantaranya, masih sedikit sesar aktif yang bisa diidentifikasi laju gesernya (secara geologis dan geodetis) serta perioda ulang gempa dan maksimum magnitudenya. Selain itu, kemungkinan adanya sesar aktif yang berlokasi dekat dengan Jakarta atau Surabaya, masih belum bisa diidentifikasi dengan baik.

Namun, dibandingkan peta gempa terakhir yang disusun tahun 2002, peta gempa teranyar ini jauh lebih kaya informasi.  Dan diharapkan peta gempa terbaru ini tidak menjadi akhir tetapi merupakan awal dalam upaya bersama meminimalisasi kemungkinan bencana akibat gempa.

Untuk itu perlu adanya upaya sistematis memetakan sumber-sumbernya, dan melakukan updating peta gempa secara berkala. Setidaknya hal itu dilakukan hampir setiap tahun oleh negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika.

Sebagaimana dikatakan Erick, ketika dirinya melakukan pertemuan dengan Rektor ITB Prof Dr Akhmaloka beberapa waktu lalu. "Kita bisa memahami gempa tidak hanya sebagai sumber bencana tetapi juga sebagai aset dalam memahami perilaku bumi yang kita tinggali yang memiliki implikasi terhadap kehidupan sosial, penyelamatan jiwa dan secara ekonomis terhadap keamanan pembangunan dan investasi," papar Erick kepada SIGAP, Jum’at dini hari (16/7). (laporan rusman)

 

 

Arsip Berita