Kamis, 24 Mei 2012
Minut: Sabut Kelapa Diminati Investor China
Rabu, 14 Juli 2010 09:41
AddThis Social Bookmark Button

 

Jakarta, 14/7 (SIGAP) - Sabut kelapa asal Minahasa Utara (Minut) mendapat perhatian serius investor asal China.

Namun investor yang berniat membangun armada dan pabrik di Minut tersebut terhalang oleh minimnya produksi sabut kelapa dari para petani.

 

"Ukuran kita sabut kelapa di Minut itu sangat melimpah tapi nyatanya kekurangan stok. Ini disebabkan minimnya informasi masyarakat tentang fungsi sabut kelapa yang nilainya sangat tinggi bagi China," kata Kepala Badan Penanaman Modal (BPM) Kabupaten Minahasa Utara, Drs Fanny Kawatu melalui Sekretarisnya Deydi T Item, Senin.

Dirinya menjelaskan, masyarakat petani kelapa di Minut seringkali tidak mengerti fungsi serabut kelapa, akibatnya selama ini petani hanya membuangnya bahkan sabut tersebut dibakar. Padahal investor China tersebut akan memanfaatkannya untuk bahan bangunan tahan gempa serta jok kursi mobil dan lainnya.

"Tapi sayang selain minimnya produksi sabut kelapa, Investor China juga masih berpikir soal mahalnya lahan yang akan digunakan untuk pembangunan pabrik. Begitu juga armada pelabuhan yang akan dibangun terhalang oleh tanah yang merupakan kawasan hutan lindung. Meski demikian kami terus memberikan pendidikan kepada masyarakat petani kelapa bahwa sabut kelapa masih banyak yang membutuhkan jadi mesti dikumpul," katanya.

Data BPM mencatat,masih ada satu investor di Minut yakni PT Supra Coco Minahasa yang bergerak di bidang sabut kelapa. Kapasistas produksinya mencapai 6.000 ton per tahun. Sedangkan investor lainnya masih membutuhkan produk tepung kelapa seperti PT Royal Coconut yang kapasitas produksinya mencapai 60 ton per tahun. Begitu pula dengan PT Unicotin yang memiliki kapasitas produksi sebesar 4.800.000 karton per tahun.

"Jadi kebutuhan kelapa di Minut ini sangat besar per tahunnya. Bukan hanya sabutnya tapi juga tepungnya. Kini tinggal bagaimana masyarakat petani memanfaatkan kesempatan ini," katanya.

Selama ini, kata Deydi, pola penanaman masih sederhana dan merupakan perkebunan rakyat yang dikelola secara turun-temurun. Tanaman kelapa diusahakan penduduk sudah sejak lama dan tumbuh subur hampir di semua kecamatan di Bumi Nyiur Melambai ini.

Produksi kelapa di Minut mencapai 33.752,52 ton. Kelapa umumnya Oleh penduduk kelapa umumnya dibuat kopra yang merupakan komoditas unggulan kabupaten. Kopra di sini sebagian besar merupakan produk industri rumahan, sementara pengolahan kelapa menjadi minyak dikerjakan oleh pabrik dalam skala kecil. Selain itu, kelapa juga diolah menjadi tepung kelapa, nata de coco, dan arang tempurung.

Penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Industri Menado (1996), dalam limbahb3.com , sebagai bahan yang berlignoselulosa, serbuk sabut kelapa ini dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan baku papan partikel.

Disamping itu, serbuk sabut kelapa ini juga telah dikembangkan untuk pembuatan briket serbuk sabut kelapa yang digunakan sebagai bahan penyimpan air pada lahan pertanian. Ini dimungkinkan karena  serbuk sabut kelapa ini merupakan salah bahan alam yang mengandung selulosa.

"Pabrik-pabrik pengolah kelapa tersebut terdapat di Kecamatan Airmadidi, Dimembe, Kauditan, dan Kema. Semua komoditas ini sudah masuk pasar ekspor, terutama ke Eropa dan India," ujarnya. (laporan wa prasetya/ant)

 

 

Arsip Berita