Kamis, 24 Mei 2012
Akibat Banjir, Puluhan Hektare Padi Terancam Puso
Rabu, 14 Juli 2010 08:43
AddThis Social Bookmark Button

 

Jakarta, 14/7 (SIGAP) - Puluhan hektare tanaman padi di Kabuapten Lampung Timur terancam puso akibat banjir dari luapan sungai di daerah itu.

 

"Daerah kami merupakan kawasan terendah di Lampung Timur, akibatnya saat curah hujan tinggi, sungai meluap dan merendam areal pertanian," kata seorang warga, Marsum (48), di Kecamatan Waway Karya, Lampung Timur, sekitar 90 Km sebelah timur dari Bandarlampung, Senin (12/7).

Menurutnya, daerah yang terkena dampak luapan sungai Way Sekampung meliputi Kecamatan Waway Karya, Marga Sekampung, dan Sekampung Udik.

Dirinya mengatakan, akibat luapan sungai Way Sekampung yang melintasi desanya menyebabkan sekitar 80 hektare lebih tanaman padi terendam dan terancam puso atau gagal panen.

"Padahal, tanaman padi sudah berbuah dan ditaksir kerugian mencapai puluhan juta rupiah," terangnya.

Marsum berharap, pemerintah setempat segera membangun tanggul penahan luapan sungai, pasalnya sudah lama warga resah akibat sawahnya selalu kebanjiran.

Hal senada dikatakan warga di daerah yang sama, Sigit (30). Menurut Sigit, di daerahnya selalu mendapat limpahan sungai dari bagian hulu, apalagi kondisi hutan sekitar sungai sudah rusak sehingga penyerapan air saat musim penghujan semakin berkurang.

"Karena di daerah kami merupakan bagian hilir sungai maka luapannya sangat besar, sehingga ketika musim hujan daerah persawahan berubah seperti lautan," jelasnya.

Sebelumnya, banjir yang merendam areal pertanian juga terjadi di Desa Donomulyo, Kecamatan Bumi Agung, Lampung Timur yang membuat sejumlah petani terpaksa memanen tanaman padi mereka lebih awal.

Sementara itu, Mudiono (37), salah seorang petani desa itu, menyebutkan, tanaman padinya yang berada di lahan seluas 0,5 hektare rencananya akan dipanen satu pekan lagi, namun areal sawahnya terendam air luapan Way Areng dan hingga kemarin belum surut.

Karena khawatir gagal panen, Mudiono akhirnya memutuskan memanen tanaman padi tersebut dengan dibantu anggota keluarganya, kemudian untuk memudahkan memanen tanaman padinya, dirinya terpaksa menggunakan rakit yang terbuat dari selembar papan ukuran 1,5 meter yang diikatkan pada 4 buah jeriken sebagai pelampung.

Menanggapi hal tersebut,  Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Lampung Timur, M Sahid Alkarim di Sukadana, mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukannya, sebagian air yang menggenangi areal persawahan di wilayah tersebut  sudah surut.

Dirinya menambahkan, untuk tanaman yang tidak terendam keseluruhan batangnya, kemungkinan besar masih dapat diselamatkan, sedangkan bagi tanaman yang telah terendam keseluruhan batangnya dalam waktu yang lama, bakal terganggu pertumbuhannya.

"Saat ini, petugas kami masih melakukan pendataan luas areal yang terendam, termasuk berapa yang berpotensi gagal panen," jelasnya.

Di sulawesi, sebelumnya, akibat jebolnya tanggul sungai Konaweeha di kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, air sungai Konaweeha pun meluap dan merendam persawahan warga sekitar 400 hektare.

Ahmad Tahjib, salah seorang petani di Desa Sulemandara, Kecamatan Pondidaha, mengatakan, akibat meluapnya air sungai, tanaman padi yang siap dipanen mengalami puso (gagal panen).

"Dari 400 hektare yang terendam separuhnya belum dipanen sehingga kerugian diperkirakan sangat besar bahkan bisa sampai miliaran, untung saja separuhnya sudah dipanen," kata Ahmad, Senin (12/7).

Menurut Ahmad, jika tidak mengalami puso hasil panen kali ini diperkirakan mencapai 4 ton per hektare dalam bentuk gabah kering panen (GKP). (laporan wa prasetya/ant)

 

 

Arsip Berita