Kamis, 24 Mei 2012
400 Hektare Padi Siap Panen Terendam Akibat Tanggul Jebol
Selasa, 13 Juli 2010 03:17
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 13/7 (SIGAP)- Akibat jebolnya tanggul sungai Konaweeha di kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, air sungai Konaweeha pun meluap dan merendam persawahan warga sekitar 400 hektare.

Ahmad Tahjib, salah seorang petani di Desa Sulemandara, Kecamatan Pondidaha, mengatakan, akibat meluapnya air sungai, tanaman padi yang siap dipanen mengalami puso (gagal panen).

"Dari 400 hektar yang terendam separuhnya belum dipanen sehingga kerugian diperkirakan sangat besar bahkan bisa sampai miliaran, untung saja separuhnya sudah dipanen," kata Ahmad, Senin (12/7).

Menurut Ahmad, jika tidak mengalami puso hasil panen kali ini diperkirakan mencapai empat ton per hektare dalam bentuk gabah kering panen (GKP).

Sementara itu, informasi mengenai jebolnya tanggul sungai Konaweeha sudah sampai kepada Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sultra.

"Sebelumnya memang sudah ada 90 hektare sawah yang terendam tetapi sekarang bertambah lagi karena tanggul sungai jebol, mungkin karena arus sungai terlalu deras akibat hujan terus menerus dua hari terakhir," kata Kepala UPTD Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Sultra, Abustan.

Menurut Abustan, areal persawahan di kabupaten Konawe memang berada di dekat daerah aliran sungai (DAS) sehingga beresiko terendam banjir setiap musim penghujan tiba.

Dirinya mengaku telah beberapa kali mengusulkan relokasi areal persawahan di kawasan yang lebih aman dari banjir, namun petani enggan berpindah lokasi.

"Petani kita selalu berupaya agar tanaman padinya terendam air sampai sebelum masa panen tiba, padahal secara teori tanaman padi hanya memerlukan air dalam jumlah terbatas tidak perlu terendam terus menerus. Inilah yang belum dipahami petani kita," katanya.

Abustan juga mencontohkan, kesuksesan petani di pulau Jawa yang menggarap areal persawahan di lereng gunung, meskipun berada di daerah ketinggian hasil panen bisa maksimal karena dikelola dengan cara yang benar sesuai petunjuk penyuluh pertanian.

"Kenapa petani harus bertahan ditempat rawan banjiir, padahal masih banyak lahan kosong yang bisa digarap dan jauh dari resiko banjir," katanya.

Gagal panen di sentra produksi beras Sultra tersebut diperkirakan akan mengurangi produksi beras Sultra tahun ini. (laporan wa prasetya/ant)

 

 

Arsip Berita