Kamis, 24 Mei 2012
Antologi Puisi Untuk Korban Gempa Padang
Minggu, 11 Juli 2010 08:33
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/7 (SIGAP) - Buku antologi puisi 45 penyair Indonesia disumbangkan ke sekolah-sekolah di lokasi gempa 30 September 2009 di Kabupaten Padangpariaman, Sumatera Barat.

Koordinator penyaluran buku berjudul "Antologi Puisi G30S Gempa Padang" untuk wilayah Sumbar, Muhammad Subhan, saat dihubungi ANTARA, Sabtu mengatakan, buku yang akan disalurkan ke sejumlah sekolah dan perpustakaan di Kabupaten Padangpariaman itu sekitar 50 eksemplar buku, dari 74 eksemplar yang diterima sejak akhir Mei 2010 lalu.

"Sebanyak 24 eksemplar buku telah disumbangkan kepada sejumlah wartawan, dosen, serta mahasiswa dalam peluncuran buku beberapa waktu lalu," ujarnya, Sabtu.

Pada awalnya, kata Subhan, acara peluncuran buku rencananya dilakukan oleh salah satu komunitas seni di Padangpariaman yang telah membentuk panitia dan diluncurkan awal Juni.

Namun menunggu tanpa kepastian jadwal waktu peluncurannya, akhirnya dirinya memutuskan untuk meluncurkan buku ini di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Kota Padangpanjang.

Selanjutnya, katanya, dua buku lainnya telah lebih dulu disumbangkan ke perpustakaan Rumah Puisi Taufiq Ismail di Nagari Aie Angek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar.

"Secara pribadi Taufiq Ismail menyambut baik terbitnya buku itu dan menitip salam kepada penyair-penyair yang menulis buku tersebut," katanya.

Penerbitan antologi puisi yang digagas penyair Budhi Setyawan itu, sebelumnya telah melalui proses penilaian dan apresiasi dari beberapa penilai dan kesepakatan panitia.

Dari 112 puisi yang masuk, dipilih 100 puisi untuk dimasukkan ke dalam buku. Pembuatan buku ini melalui dana swadaya dari iuran penyair dan sumbangan beberapa anggota `mailling list` `Apresiasi Sastra`, sehingga hanya dicetak dalam jumlah yang tidak banyak.

Dalam konteks budaya, Erick Ridzki, Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bencana dan Bantuan Sosial mengingatkan UU No.24 Tahun 2007 yang mengatur mengenai penanggulangan bencana.

Dikatakannya, bahwa prinsip pemberdayaan dan tujuan untuk menghargai budaya lokal dan mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan dan kedermawanan.

“Dari segi ekonomi, penanganan bencana dengan menggunakan energi masyarakat tentu saja akan lebih murah dibandingkan dengan menggunakan alat-alat berat. Membangun kesadaran pengurangan resiko bencana berbasis kebudayaan, dengan segala salurannya, sungguh capaian kemajuan yang paling mungkin dikerjakan saat ini,” tegasnya.

“Kami mendukung kegiatan-kegiatan seperti itu,” pungkasnya. (laporan wa prasetya/ant) 

 

Arsip Berita