Kamis, 24 Mei 2012
Populasi Ternak Dan Dokter Hewan Belum Berimbang
Minggu, 11 Juli 2010 02:04
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/7 (SIGAP) - Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), mengungkapkan antara populasi ternak dengan dokter hewan yang ada di dinas-dinas di kabupaten/kota belum berimbang.

 

"Ini membuat Kalbar sangat kekurangan dokter hewan. Saat ini Kalbar baru memiliki sekitar 30 dokter hewan. Bahkan di beberapa kabupaten yang sampai saat ini belum ada," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, Abdul Manaf Mustafa di Pontianak, Jumat.

Saat ini lanjut Manaf, untuk menangani sekitar 3.000-4.000 ekor sapi atau 3.000-4.000 satuan ternak itu dilakukan oleh satu dokter hewan.

"Sebagai contoh, populasi sapi di Kalbar sekitar 160 ribu ekor, dari situ dapat dilihat untuk menanganinya membutuhkan sekitar 50 orang dokter hewan," jelas Manaf.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalbar, Mugiyono mengatakan, kekurangan dokter hewan di Kalbar ini juga terkendala dengan minimnya pengangkatan dokter hewan itu sendiri.

"Memang ada beberapa dokter hewan yang kami panggil untuk ke Kalbar," jelas Mugiyono.

Dirinya berharap dari Pemerintah Provinsi Kalbar dan pemerintah kabupaten/kota yang ada bersedia memberikan beasiswa bagi siswa yang berminat di bidang kedokteran hewan untuk disekolahkan.

Selama ini untuk pemenuhan kebutuhan dokter hewan, instansi tersebut sendiri memiliki kebijakan sistem dokter hewan kontrak.

"Jadi tenaga kontrak, khususnya di provinsi. Tetapi ini juga masih terbatas, belum bisa mencukupi," kata Mugiyono.

Lebih lanjut Mugiyono menjelaskan, tenaga dokter hewan misalnya saja di Bidang Kesehatan Hewan, satu orang kepala seksi membawahi dua hingga tiga orang dokter hewan. "Padahal kami memiliki dua orang seksi, kemudian untuk di laboratorium juga memerlukan dokter hewan untuk mendukung kegiatan. Termasuklah kegiatan pelayanan kesehatan hewan yang ada di kami masih kurang," katanya.

Secara nasional, menurut catatan SIGAP, Indonesia masih membutuhkan 9.000 tenaga dokter hewan dari 20 ribu yang dibutuhkan hingga tahun 2020. Sampai saat ini, baru ada sekitar 11 ribu dokter hewan yang tersebar di seluruh daerah.

“Kita masih kekurangan 9.000 dokter hewan, sementara tiap tahunnya tidak sampai 1.000 dokter hewan yang diluluskan,” kata Dekan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada, Prof Dr drh Bambang Sumiarto SU, MSc.

Seperti dilansir laman resmi UGM, Oktober tahun lalu, Bambang Sumiarto menambahkan, rasio jumlah dokter hewan yang ada dengan yang dibutuhkan masih sangat minim. Banyak pos-pos yang seharusnya diisi oleh lulusan dokter hewan justru dipegang oleh yang bukan ahlinya. Sebagai dampaknya, upaya pemberantasan penyakit menular tidak berjalan serentak dan efektif.

“Efeknya dirasakan sekarang. Di daerah kabupaten yang seharusnya diperiksa dokter hewan tidak diperiksa oleh dokter hewan sehingga pemberantasan penyakit menular masih kurang,” ujarnya.

Bambang Sumiarto menyampaikan baru ada 5 Fakultas Kedokteran Hewan yang tiap tahunnya meluluskan dokter hewan. Selain UGM, ada Institut Pertanian Bogor, Universitas Syiah Kuala (Aceh), Universitas Airlangga (Surabaya), dan Universitas Udayana (Bali).

Sementara 3 FKH lainnya, Universitas Brawijaya, Malang, Universitas Mataram, NTB, dan Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya, belum meluluskan. “Baru lima fakultas yang meluluskan. Dalam setahun tidak sampai seribu orang,” katanya. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita