Kamis, 24 Mei 2012
Kemenhub Beri Dukungan Teknis Percepatan Pembangunan BIL
Sabtu, 10 Juli 2010 08:32
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 10/7 (SIGAP) - Kementerian Perhubungan memberikan dukungan teknis untuk kelancaran percepatan pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL), di Tanah Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. "Kami akan beri dukungan teknis demi kelancaran percepatan pembangunan bandara internasional itu," kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono, di Mataram, Jumat, usai memantau dari udara kondisi BIL.

Pemantauan kondisi BIL dari udara itu menggunakan pesawat khusus berkapasitas 10 orang, yang diterbangkan dari Bandara Ngurah Rai Denpasar, Bali.

Bambang mengemukakan pentingnya dukungan teknis Kementerian Perhubungan terhadap BIL itu, ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang keraguan kalangan tertentu terhadap jadwal pengoperasian BIL saat HUT ke-63 Pemprov NTB 17 Desember 2010.

Pemprov NTB merencanakan BIL mulai dioperasionalkan 17 Desember mendatang, yang merujuk pada laporan manajemen PT Angkasa Pura I tentang pembangunan BIL yang dijadwalkan rampung akhir Agustus 2010.

Semula hendak digelar pembukaan pertama (soft opening) BIL akhir Agustus, namun diundur hingga akhir Desember karena jalan khusus akses BIL belum rampung.

Pihak Balai Jalan dan Jembatan Nasional Wilayah VIII menargetkan pembangunan jalan akses BIL itu rampung awal Desember jika pembebasan lahannya segera selesai.

Namun, hingga kini masih terdapat beberapa titik yang belum dibebaskan untuk pembangunan jalan akses BIL itu, sehingga kalangan tertentu mengkhawatirkan rencana Pemprov NTB mengoperasionalkan BIL pada 17 Desember 2010.

Bambang mengatakan, Kemenhub selaku regulator pembangunan BIL terus berupaya mendukung percepatannya, termasuk memberikan dukungan teknis kepada lembaga pelaksana yakni PT Angkasa Pura I.

"Bimbingan teknis itu dimaksudkan untuk memperlancar pemenuhan berbagai persyaratan pembangunan bandara yang selalu sesuai dengan standar internasional," ujarnya.

Namun, dirinya mengakui, untuk urusan teknis pembangunan BIL merupakan kewenangan PT Angkasa Pura I, Kemenhub mendukungnya secara teknis.

Bandara Internasional Lombok yang pembangunan infrastruktur utamanya sudah hampir 100 persen itu, memiliki landasan pacu 2.750 meter dengan lebar 40 meter.

Bandara itu didukung lahan apron seluas 62.074 meter, terminal yang dilengkapi dua unit ruang eksekutif pada areal seluas 12 ribu meter dan kawasan parkir kendaraan seluas 17.500 meter.

Sebagian besar pekerjaan fisik bandara internasional itu yang mencapai Rp802 miliar itu ditanggung manajemen Angkasa Pura I namun pengalokasian dana secara `multi years` terhitung 2006 hingga 2009, yang melibatkan sejumlah rekanan.

Proyek pembangunan landasan pacu, misalnya, dipercayakan kepada PT Hutama Karya dengan nilai proyek Rp166 miliar dari dana yang teralokasi Rp170 miliar.

Proyek pembangunan terminal dikerjakan PT Slipi Raya dengan nilai proyek hampir mendekati dana teralokasi Rp150 miliar. Sementara dana tanggungan APBD NTB sebanyak Rp117 miliar dipergunakan untuk membangun `airside` seperti `taxiway`, apron dan fasilitas penunjangnya.

Dana tanggungan Pemkab Lombok Tengah sebesar Rp46 miliar untuk pembangunan `landside` yaitu area parkir mobil/motor, jalan lingkungan dan fasilitas penunjang.

PT. (Persero) Angkasa Pura I mengadopsi desain bandara hijau atau green airport untuk proyek pembangunan Bandara Internasional Lombok, Nusa Tenggara Barat tersebut.

Dirut AP I Bambang Darwoto, dalam web resminya,  mengatakan setiap pengembangan bandara di lingkungan BUMN itu didesain dengan ciri khusus, termasuk bandara baru di Lombok Tengah tersebut.
“Bandara Lombok akan menonjolkan ciri khas penghijauan dengan berbagai tanaman di lokasi bandara,” katanya disela-sela pencanangan Program Penanaman Pohon Indonesia di lokasi proyek Bandara Lombok, sekitar 35 km dari Mataram, beberapa waktu lalu. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita