Kamis, 24 Mei 2012
Presiden Tanam Trembesi Di Halaman Istana Presiden
Jumat, 09 Juli 2010 04:46
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 9/7 (SIGAP) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menanam pohon trembesi di kompleks Istana Presiden, Jakarta, Kamis sore. Penanaman pohon dilakukan seusai Presiden menggelar sidang kabinet paripurna yang membahas evaluasi tengah tahun 2010 kinerja Kabinet Indonesia Bersatu II.

"Akan ditanam tiga trembesi, satu di sini (halaman kantor presiden) dan dua di belakang Istana Negara, kiri dan kanan," kata Presiden dihadapan para menteri Kabinet Indonesia Bersatu, Dewan Pertimbangan Presiden dan Staf Khusus Presiden.

Pohon trembesi atau samanea saman yang ditanam Presiden Yudhoyono berusia 5 tahun setinggi lebih dari 4 meter. Sedangkan dua pohon yang lainnya berukuran lebih kecil, masing-masing berusia 1,5 tahun setinggi sekitar 2,5 meter.

Sementara, kedua pohon yang di tanam di halaman belakang Istana Negara itu ditanam oleh Ibu Negara Ani Yudhoyono, yang sore itu menggenakan kemeja ungu bermotif tenun dan sedangkan Wakil Presiden Boediono mengenakan batik lengan pendek berwarna biru.

"Kita menanam ini karena dua pohon trembesi kita (yang ada di halaman tengah komples Istana Presiden) salah satu dahannya telah masuk ke lokasi yang biasa digunakan untuk resepsi kenegaraan 17 Agustus sehingga membahayakan," katanya.

Menurut Kepala Negara, salah satu dahan besar pohon trembesi yang menjuntai ke tanah dan terpaksa ditopang tiang itu akan dipangkas.

Saat melakukan penanaman selain disaksikan oleh Presiden Yudhoyono, Ibu Ani juga didampingi oleh Mendag Mari E Pangestu, anggota Wantimpres Meutia Hatta, Menteri Negara Peranan Wanita dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari dan Utusan Khusus Presiden untuk MDGs Nila Moeloek.

Lebih lanjut, Presiden meminta penjelasan mengenai kemajuan program penanaman 1 miliar pohon setiap tahun dari Menteri Kehutanan Zulkifli Hassan.

Zulkifli menjelaskan, bahwa sedikitnya setiap tahun Indonesia akan menanam 1,2 miliar pohon.

"Dari APBN kita mendapatkan 500 juta bibit yang disebar ke 10 ribu kelompok bibit rakyat," katanya.

Kemudian, lanjutnya, 300 juta diharapkan berasal dari tanaman industri, 200 juta dari masyarakat dan 300 juta dari kalangan pemerintah.

Berdasarkan catatan SIGAP, program yang telah dilaksanakan pemerintah dalam rangka pengembalian fungsi pohon diantaranya, Aksi Penanaman Serentak Indonesia (2007 dan 2008), Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon (2007), Pencanangan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam Nasional (2008), serta Satu Orang Satu Pohon (One Man One Tree - 2009).

Keberhasilan seluruh program tersebut memacu pemerintah untuk meluncurkan program Penanaman 1 Miliar Pohon tahun 2010 dengan motto "Satu Miliar Pohon Indonesia untuk Dunia" atau "One Billion Indonesian Trees for the World".

Penyediaan bibit direncanakan melalui anggaran DIPA BA 2010 sebanyak 36 juta batang, partisipasi para pihak seperti swasta, BUMN, LSM, Pemda, lembaga donor sebanyak 300 juta batang, Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Desa sebanyak 320 juta batang, Rehabilitasi Hutan dan Lahan Daerah Aliran Sungai sebanyak 300 juta batang, serta Hutan Rakyat Kemitraan sebanyak 50 juta batang.

Melalui program Penanaman 1 Miliar Pohon tahun 2010 ini, Kementerian Kehutanan juga berupaya untuk sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar hutan. Beberapa skema yang ditempuh Kementerian Kehutanan adalah melalui Hutan Kemasyarakatan, di mana 2010 ini direncanakan seluas 210.749,64 hektare, Hutan Rakyat Kemitraan seluas 203.833 hektare, Hutan Desa seluas 10.310 hektare, dan pencadangan Hutan Tanaman Rakyat mencapai 480.303 hektare.

Total luas seluruh skema tersebut mencapai 905.195,64 hektare. Apabila setiap Kepala Keluarga (KK) diberikan ijin kelola rata-rata seluas 15 hektare, dan melibatkan 4 orang sebagai tenaga kerja, maka sedikitnya 60.346 KK atau 241.384 tenaga kerja terserap dalam pengelolaan hutan ini.

Apabila setiap hektare yang dikelola masyarakat dapat menghasilkan 200 m3 kayu dengan harga Rp. 500.000,00/m3, maka setiap hektare lahan dapat menghasilkan 100 juta rupiah, atau Rp 1,5 miliar setiap KK. (laporan wa prasetya/ant)

 

Arsip Berita