Kamis, 24 Mei 2012
Pengamat Agribisnis: Usulkan BMKG Gandeng Negara Maju Prediksi Iklim
Kamis, 08 Juli 2010 08:15
AddThis Social Bookmark Button

 

Jakarta, 8/7 (SIGAP) - Pengamat Agribisnis dari Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Ir Leta Rafael Levis M.Rur.Mnt berpendapat sudah saatnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggandeng negara-negara dalam memprediksi perubahan iklim dan cuaca.

 

Demikian dikemukakan Leta Rafael, yang juga Dosen Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana), di Kupang, Kamis (8/8). Padangannya tersebut terkait dengan perubahan iklim dan cuaca akibat pemanasan global yang berdampak pada pergeseran musim tanam bagi para petani.

Dirinya menambahkan, perlu menginformasikan kepada para petani tentang awal musim tanam terkait dengan perubahan iklim dan cuaca agar petani bisa terhindar dari kebiasaan membuka musim tanam pada setiap November tahun berjalan.

Untuk itu menurutya, BMKG dapat menggandeng negara-negara maju yang hebat teknologinya seperti Amerika Serikat, Australia dan Jepang guna membantu memprediksi iklim sehingga dapat menginformasikan dengan tepat kepada para petani.

Berdasarkan catatan, perubahan iklim pada periode musim tanam 2009/2010, misalnya, telah berdampak pada perubahan pola tanam bagi sekitar 80% petani di NTT, sehingga berdampak pada gagal tanam dan gagal panen.

"Jika BMKG melakukan analisa perubahan iklim dan cuaca secara tepat seperti di negara-negara maju, mungkin bisa mengurangi risiko gagal tanam dan gagal panen yang dialami oleh para petani kita di NTT saat ini," ujarnya.

Dampak perubahan iklim tersebut, katanya, dapat dilihat dari hasil laporan dan analisis Badan Bimas Ketahanan Pangan NTT hingga periode Juni 2010 yang menyebutkan, akibat perubahan dan penyimpangan iklim ini, sekitar 1.481 desa dari 2.836 desa/kelurahan di NTT mengalami kekeringan.

Kekeringan ini telah berdampak pada gagal tanam dan gagal panen sehingga sekitar 1,6 juta jiwa penmduduk yang tersebar pada ribuan desa tersebut mengalami ancaman rawan pangan dengan kategori ringan, sedang dan tinggi.

Leta Rafael juga menyebutkan, jumlah desa dengan tingkat resiko rawan pangan ringan sebanyak 400 desa, resiko sedang sebanyak 335 desa dan desa resiko tinggi sebanyak 746 desa.

Menurutnya, anomali iklim yang terjadi pada 2009 merupakan dampak pemanasan global, dimana BMKG Indonesia sulit mengantisipasi dengan tepat, kapan sesungguhnya akan terjadi hujan dan kapan pula para petani lahan kering dan basah harus menanam.

Dampaknya adalah ada sebagian petani yang menanam sebelum musim hujan benar-benar tiba dan ada pula yang menanam pada saat musim hujan tiba dan bahkan ada yang sama sekali tidak menanam karena diliputi kebingungan dari kedua gejala alam tersebut.

Salah satu bukti BMKG Indonesia sulit melakukan antisipasi tersebut, di mana sampai awal Juli masih terjadi hujan secara sporadis pada wilayah-wilayah tertentu di NTT, katanya.

Berdasarkan kondisi alam NTT pada setiap tahunnya, musim kemarau sudah mulai berlangsung dari April, namun dalam kenyataannya sampai Juli pun hujan masih terus berlangsung sampai menimbulkan banjir besar pada sejumlah tempat di NTT.

Dalam hubungan dengan itu, dirinya mengharapkan BMKG dapat melakukan analisa secara tepat mengenai anomali iklim tersebut sehingga tidan mencemaskan para petani.

Walau demikian dirinya memaklumi BMKG masih memiliki keterbatasan fasilitas karena keterbatasan anggaran yang dimiliki negara untuk melakukan prediksi. Salah satu jalan keluar menurutnya, melakukan kerjasama dengan negara-negara yang telah maju teknologinya di bidang analisis iklim dan cuaca.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang didapat dari laman BMKG secara umum terjadi pergeseran awal musim kemarau 2010. Dijelaskan pergeseran awal musim kemarau 2010 berdasarkan monitoring prediksi EN, SST perairan Indonesia dan Dipole Mode (DM).

Berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan BMKG tersebut, disimpulkan bahwa pertama, potensi hujan di sebagian besar Indonesia diprediksi dengan intensitas sedang sampai lebat hingga pertengahan Juli 2010. Kedua, musim kemarau 2010 cenderung lebih basah dibanding normalnya. Ketiga, kecenderungan musim kemarau 2010 lebih pendek dibanding normalnya. (laporan rusman/ant)

 

 

Arsip Berita