Kamis, 24 Mei 2012
Pertumbuhan Ekonomi Asia Perlu Diperlambat
Kamis, 08 Juli 2010 01:57
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 8/7 (SIGAP) - Chief Economist Bank DBS Singapura David Carbon menilai pertumbuhan ekonomi Asia perlu diperlambat

setelah mencatat pertumbuhan ekonomi dua digit selama lima triwulan pasca krisis keuangan global sejak awal 2009.

"Produksi barang manufaktur naik terus dan belum melandai sejak Januari 2009. Prediksinya saat ini seharusnya pertumbuhan sudah melandai tapi ternyata pada Mei masih naik terus," kata David yang juga Managing Director for Economy and Currency Research Bank DBS Singapura, di Jakarta, Rabu (7/7).

David mengatakan negara-negara Asia telah benar-benar keluar dari krisis keuangan. Hal itu dapat terlihat dari pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) di Asia yang saat ini mencapai 7,7%.

Meski pemulihan ekonomi Asia pasca krisis dinilai mengagumkan namun pertumbuhan Asia perlu bergerak lebih lambat, bukan lebih cepat.

DBS juga mengatakan bahwa konsumsi Asia menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi global. Sejak awal terjadinya krisis di kuartal III tahun 2008, konsumsi Asia tumbuh sebesar 17%, sementara Amerika hanya tumbuh 1%. Jepang dan Eropa bahkan lebih kecil lagi yaitu 0,5 dan 0,7%.

DBS berpendapat bahwa krisis utang yang saat ini sedang terjadi di Eropa tidak akan berpengaruh secara signifikan kepada Asia.

Krisis tersebut akan menyebabkan terjadinya penundaan kenaikan suku bunga di Asia, tapi tidak dalam waktu yang lama, sementara pengetatan moneter masih terus berlanjut pasca-krisis di Eropa.

DBS memproyeksikan akan terjadi kenaikan suku bunga di Asia setidaknya 50 basis poin pada akhir tahun ini. "Pertumbuhan ekonomi sudah naik, inflasi juga sudah pulih seperti sebelum masa krisis, jadi tinggal suku bunga yang belum naik," ujar David.

Pada kesempatan terpisah, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Muliaman Hadad mengatakan, kenaikan inflasi di Indonesia sebulan terakhir lebih didorong oleh faktor sementara yaitu naiknya harga bahan makanan segar seperti cabai dan sayur-mayur lainnya.

Oleh karena itu, BI telah memutuskan untuk mempertahankan BI rate pada posisi 6,5% untuk menjaga inflasi agar tetap pada target yaitu di level lima plus minus satu persen.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2010 dan 2011 akan lebih tinggi.

"Pemulihan ekonomi global tetap dimotori oleh negara Asia, terutama China yang terus menunjukkan perkembangan membaik, meskipun pasar keuangan sempat diwarnai oleh sentimen negatif terkait kebijakan pengetatan di China," kata Pjs Gubernur BI Darmin Nasution dalam keterangan tertulis seusai memimpin rapat Dewan Gubernur BI di Jakarta, Februari lalu seperti dilansir Vivanews.

Sedangkan, di negara maju, proses pemulihan ekonomi berlangsung dengan laju yang lebih moderat.

Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi didukung oleh konsumsi yang masih tumbuh cukup tinggi sejalan dengan perbaikan daya beli dan tingkat keyakinan konsumen.

Ekspor menunjukkan kecenderungan meningkat sejalan dengan pemulihan ekonomi global yang semakin kuat. Demikian pula surplus neraca pembayaran diperkirakan akan lebih tinggi, didukung oleh surplus pada transaksi berjalan yang relatif besar.

Arus modal luar negeri yang masuk ke perekonomian domestik juga relatif besar sejalan dengan kondisi fundamental perekonomian domestik yang cukup kuat dan meningkatnya rating Indonesi a (laporan wa prasetya/ant)

 

 

Arsip Berita