Kamis, 24 Mei 2012
Program Pertanian Terintegrasi Menjadi Pilihan Bali Mengatasi Kemiskinan
Rabu, 07 Juli 2010 09:23
AddThis Social Bookmark Button

Denpasar, 7/7 (ANTARA) – Langkah terobosan dilakukan Pemerintah Provinsi Bali dalam mengatasi kemiskinan dengan pengembangan pertanian terintegrasi menjadi pilihan yang cukup jitu.

Diharapkan melalui langkah ini  masyarakat tetap mengembangkan usaha di desa dan tidak mengadu nasib ke kota.

"Pengembangan pola pertanian terintegrasi yang telah dirintis pada 50 lokasi di daerah pedesaan yang tersebar pada delapan kabupaten diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengatasi masalah kemiskinan," kata Gubernur Bali Made Mangku Pastika, di Denpasar, Rabu (7/7).

Ditambahkannya, pola pengembangan pertanian terintegrasi itu mampu mendorong petani mengembangkan komoditi unggul maupun mata dagangan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.

Pola pertanian terintegrasi pada 2010 dibangun 40 unit, sebagai kelanjutan dari tahun sebelumnya sebanyak sepuluh unit.

Diharapkannya, lewat pengembangan pertanian dalam arti luas, mulai dari tanaman pangan, perkebunan, peternakan dan perikanan mampu memberikan nilai tambah terhadap kehidupan masyarakat setempat.

Menurutnya, dengan cara itu masyarakat tetap mengembangkan aktivitasnya di desa, bukan mengadu nasib ke Kota. Lewat berbagai upaya itu diharapkan mampu mengentaskan masalah kemiskinan.

"Bersama seluruh satuan kerja perangkat daerah kami bertekad mengentaskan masalah kemiskinan hingga tuntas," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Basroni Kiran, Asisten Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (ASK BSB) menyambut baik program yang dilakukan Pemrov Bali ini. “Program itu bagus. Intinya, selama program tersebut dapat memberdayakan masyarakat, terutama menekan angka kemiskinan di pedesaan perlu didukung,” ujarnya kepada SIGAP, Rabu (7/7).

Terkait upaya Pemprov Bali yang menginginkan warganya untuk tidak mengadu nasib ke kota, Basroni menilai, sebenarnya masyarakat memiliki kebebasan menentukan pilihan. Namun katanya, bila didesa peluang untuk memperbaiki kesejahteraan masih tersedia, lebih baik masyarakat  tidak perlu ke kota. “Dari pada mereka bertumpuk-tumpuk ke kota, lebih baik di desa. Di desa masih tersedia lahan pertanian untuk di garap,” katanya.

Sementara itu, menurut Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali Ida Komang Wisnu sebanyak 174.930 orang masuk katagori penduduk miskin di Bali. Masyarakat Bali yang masuk katagori miskin lebih banyak di pedesaan, yakni 91.310 orang dan di kota 83.620 orang.

Ditambahkan, tingkat kemiskinan hingga Maret 2010 mencapai 4,88 persen dari jumlah penduduk Bali sebanyak 3,6 juta jiwa.

Masyarakat yang masuk katagori miskin turun 0,25 persen dibanding bulan Maret 2010 yang mencapai 5,13 persen.

Garis kemiskinan yang digunakan sebagai dasar penghitungan penduduk miskin berpenghasilan sebesar Rp 208.152 per kapita setiap bulan, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya Rp 196.466.

Garis kemiskinan di daerah perkotaan maupun pedesaan sama-sama mengalami peningkatan masing-masing sebesar 5,39 persen dan 6,86 persen.

Peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan komoditas nonmakanan terhadap pembentukan garis kemiskinan di Bali pada bulan Maret 2010. (laporan Rusman/ant)

 

 

Arsip Berita