Kamis, 24 Mei 2012
Jumlah Penduduk Miskin di Pedesaan Bertambah
Selasa, 06 Juli 2010 08:50
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/7 (SIGAP) - Jumlah penduduk miskin atau penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di wilayah pedesaan meningkat sebanyak 1.190 orang,

kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bengkulu, Carsadi.

"Jumlah penduduk miskin di Provinsi Bengkulu pada Maret 2010 meningkat sebanyak 324.930 orang jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada bulan yang sama pada 2009 sebanyak 324.130 orang," katanya di Bengkulu.

Ia mengatakan meskipun jumlah penduduk miskin meningkat tetapi angka relatif dalam persentase antara 2009 dan 2010 mengalami penurunan sebesar 0,29 persen. Carsadi mengatakan, bahwa jumlah penduduk miskin di pedesaan meningkat sebesar 1.190 orang, sementara jumlah penduduk miskin di perkotaan menurun sebanyak 390 orang.  "Pada Maret 2009 jumlah penduduk miskin di perkotaan sebanyak 117.600 jiwa, sedangkan pada Maret 2010 hanya tercatat 117.210 jiwa," katanya.

Sementara itu, jumlah penduduk miskin pedesaan pada Maret 2009 sebanyak 206.530 orang dan meningkat menjadi 207.720 orang pada Maret 2010. Sehingga jumlah penduduk miskin pedesaan dan perkotaan Provinsi Bengkulu pada Maret 2009 sebanyak 324.130 orang meningkat menjadi 324.930 orang pada Maret 2010.

Dirinya mengatakan, besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Selama Maret 2009 hingga Maret 2010 garis kemiskinan naik sebesar 7,51 persen yaitu dari Rp210.084 per kapita per bulan menjadi Rp225.857 per kapita per bulan.

"Untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran," katanya.

Sementara itu, Deputi Kemiskinan, Ketenagakerjaan, dan UKM Bappenas Prasetijono Widjojo MJ menyebutkan bahwa ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan. “Di antaranya adalah tingkat inflasi, angka SIGAP, Selasa (6/7).

Menurutnya, tingkat inflasi sebesar 7% pada tahun 2009 dapat mempercepat penurunan tingkat kemiskinan di Indonesia. Angka pengangguran di Indonesia meningkat pada tahun 2009 padahal sebelumnya sekitar 7-8%. Pada tahun 2009 angka pengangguran di atas 8%.

Sementara itu, Ir. Hapsari Laksmi Koestiati M.M, Asisten Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana mengatakan, untuk menurunkan jumlah masyarakat miskin pemerintah telah mengeluarkan kebijakan melalui bantuan dana tunai bersyarat. Program tersebut disebut Program Keluarga Harapan (PKH).

“PKH adalah proram dana tunai bersyarat yang ditujukan untuk memperbaiki kualitas sumber daya anak dari Rumah Tangga Sangat Miskin sebagai generasi penerus agar mereka mampu kelak membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan,” katanya kepada SIGAP, awal Juli 2010.

Selanjutnya, menurut Rieke, sapaan akrab Hapsari Laksmi Koestiati, pelaksanaan PKH berkesinambungan. “Setidaknya hingga tahun 2015 akan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan Millenium,”katanya.

Seperti diketahui terdapat 5 komponen MDGs, yang secara tidak langsung, akan terbantu oleh PKH, diantaranya pengurangan penduduk miskin dan kelaparan, pendidikan tingkat dasar, kesetaraan gender, pengurangan angka kematian bayi dan balita, pengurangan kematian ibu saat melahirkan dan strategi komunikasi termasuk di dalamnya sosialisasi, edukasi, dan advokasi. (laporan Sofyan Badrie/ant)

 

Arsip Berita