Kamis, 24 Mei 2012
Sejarah Kegempaan Pantai Selatan Jawa
Selasa, 06 Juli 2010 01:54
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 6/7, (SIGAP)- Bila melihat sejarah, zona subduksi Jawa memiliki potensi magnitude kegempaan lebih rendah dibandingkan dengan zona subduksi Sumatera

yang rata-rata di atas 8 skala Richter (SR). Demikian pandangan Dani Hilman (Geotek LIPI) disampaikan kepada SIGAP di Bandung bulan lalu.

 

Dikatakannya, waktu terjadinya gempa pun di Jawa lebih kecil dibandingkan Sumatera.

”Selain itu lempeng Jawa pun sudah tua, berusia di atas 150 juta tahun. Gerakan tektoniknya pun berat sehingga tidak terlalu menekan ke arah Pulau Jawa,” jelasnya.

Sejarah gempa di Pulau Jawa yang dimiliki Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tidak begitu banyak, hanya untuk rentang waktu 1840-2000.  Pada 20 Oktober 1859 terjadi gempa di Pacitan dengan perkiraan di atas 7 SR. Sedangkan 10 Juni 1867 terjadi gempa di Yogyakarta yang menewaskan 500 orang lebih. Pusat gempa diperkirakan sama dengan gempa yang terjadi di Yogyakarta, Mei 2006 lalu, namun magnitude pada 1867 lebih besar dengan perkiraan 8 SR dibandingkan pada 2006 yang hanya 6,3 SR. Sementara itu pada 11 September 1921 terjadi gempa yang pusatnya berdekatan dengan pusat gempa di Pangandaran pada bulan juli 2006.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Dr Heri Harjono, sejarah kegempaan yang menimbulkan tsunami di Selatan Jawa tidak “terekam” secara alami, seperti halnya di pantai barat Sumatera.

Menurut Harjono, Periode naik dan turunnya permukaan pesisir pantai barat Sumatera dalam periode ratusan tahun terekam pada terumbu karang yang hidup disana.
Ketika gempa akibat sesar naik maka pesisir pantai akan naik, yang menyebabkan terumbu karang yang naik ke permukaan akan mati. Namun ketika pesisir itu tenggelam karena proses geologis turun, maka terumbu karang tersebut akan tumbuh kembali.

Dengan mengetahui sejarah terjadinya gempa besar yang disertai tsunami berdasarkan catatan itu, penduduk paling tidak dapat mengantisipasi periode pengulangan, dan berwaspada pada bahaya itu.

“Pendekatan historis membantu kita secara adaptif mitigasi untuk melakukan langkah pengurangan resiko, dan kelanjutan pembangunan,” kata Erick Ridzky, Asisten Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB).

Catatan Harjono mengemukakan,  di pesisir Selatan Jawa tidak ditemukan koloni terumbu karang.  Di sekitar daerah ini memiliki topografi yang berbeda, tidak ditemukan jajaran kepulauan dan perairan yang dangkal diantaranya. Padahal perairan dangkal memungkinkan tumbuhnya terumbu karang. Sejarah kegempaan dan tsunami di Jawa pernah dilaporkan Fisher, peneliti dari Belanda pada tahun 1920-an. Laporannya antara lain menyebutkan daerah Pacitan pernah dilanda tsunami.

Setidaknya dibutuhkan penelitian terhadap daerah ini. “Untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti, maka sudah seharusnya penelitian yang lebih intensif dilakukan di sekitar pantai Selatan Jawa, untuk melihat karakteristik potensi kegempaan dan tsunami di daerah ini,” lanjut Erick. (laporan wa prasetya)


 

Arsip Berita