Kamis, 24 Mei 2012
Padang Rawan Terhadap Potensi Tsunami
Senin, 05 Juli 2010 05:56
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 5/7 (SIGAP)- Kota Padang merupakan daerah yang paling rawan terhadap potensi terjadinya tsunami di dunia. Demikian komunitas pakar gempa dan tsunami internasional mengemukakan pada pertemuan bertajuk "Internasional Meeting on Sumatran Earthquake Challenge" di Padang, tahun 2008.

Berdasarkan hasil pertemuan yang berlangsung 24 – 28 Agustus 2008 ini, kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) menjadikan salah satu dasar akan pentingnya melakukan tindakan antipasi bencana gempa di Indonesia.

Jauh sebelumnya, Deputy Chairman Of Earth Sciences-LIPI J Sopaheluwakan pernah mengemukakan, bahwa analisa pakar gempa dan tsunami itu bukanlah isapan jempol belaka. Berdasarkan informasi yang dihasilkan dalam forum internasional itu, gempa besar pernah terjadi di Padang tahun 1833 dan pengulangannya akan terjadi sekitar 200 tahun kedepan.

“Kita jangan panik, tapi lebih baik salurkan energi was-was itu menjadi persiapan dan setiap saat kita harus siap. Kondisi riilnya Padang memang akan ditimpa tsunami, dimana waktu perulangannya setiap 200 tahun sekali," demikian Sopaheluwakan menjelaskan.

Sopaheluwakan mengingatkan, apa yang dilakukan Jepang dalam mengantisipasi bencana gempa perlu dicontoh. Pemerintah Sizuoka (bagian selatan Tokyo) menurutnya telah siap menunggu gempa dan tsunami dengan berbagai persiapan. Kondisi wilayah Sizuoko katanya sama dengan Padang, namun pemerintahnya telah menyiapkan segala sesuatunya, diantaranya membangun pusat komunikasi, logistik yang cukup tersedia, makanan yang disimpan sepuluh tahun serta penjernih air.

Ditambahkannya, untuk mengantispasi perkiraan gelombang tsunami setinggi 9 meter katanya, pemerintah Sizuoko membuat gunung-gunung buatan setinggi 11 meter dan memiliki rute evakuasi yang dilengkapi dengan tanda-tanda penyelamatan, serta membangun bendungan.

Jika tsunami datang, kata Sopaheluwakan, hantaman gelombangnya akan dapat dihambat oleh penahan gelombang dilengkapi dengan "green belt" dan membangun sebuah kota pengungsi dibelakang pengunungan.

Berdasarkan analisa, setidaknya potensi bencana gempa dan tsunami di Padang juga akan merambat ke kabupaten dan kota sekitarnya termasuk Pariaman, terus ke Bengkulu, Anyar, Lampung dan Pelabuhan Ratu.

Terkait analisa para pakar gempa dan tsunami internasional tersebut, Erick Ridzky, Asisten SKP BSB mengingatkan, yang paling penting adalah bagaimana pemerintah setempat segera melakukan tindakan-tindakan mitigasi melalui upaya sosialisasi tentang potensi gempa ini kepada masyarakat. Kemudian mengkoordinasikan stackholder untuk mempersiapkan prosedur quick respon yang disepakati bersama bila terjadi gempa.

Selain itu kata Erick, perlu menyiapkan langkah-langkah praktis bagi masyarakat yang berada di wilayah sepanjang pantai Padang untuk menghindari bila terjadi tsunami. “Model yang dilakukan pemerintah lokal Sizuoka Jepang dapat dijadikan referensi bagaimana mereka melindungi warganya dari bahaya gempa. Disinilah peran penting pemerintah disetiap stratifikasinya,” ungkap Erick Ridzky kepada SIGAP, Senin (5/7). (laporan Rusman/khusus)

 

 

Arsip Berita