Kamis, 24 Mei 2012
Indonesia Release Peta Gempa Terbaru Tahun 2010
Minggu, 04 Juli 2010 04:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 4/7 (SIGAP)- Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto secara resmi menandatangani peta gempa terbaru Indonesia tahun 2010, Kamis (1/7). Hal ini berarti mengakhiri pekerjaan tim nasional peta gempa (Tim Sembilan). Pekerjaan pembuatan peta gempa Indonesia ini dilakukan oleh tim yang anggotanya terdiri dari sembilan orang diketuai oleh Prof. Masyhur Irsyam (Teknik Sipil ITB), Dr. Ir. Wayan Sengara (Teknik Sipil ITB) sebagai Wakil Ketua, Ir. Fahmi Aldiamar, MT (Litbang Jalan PU) sebagai Sekertaris, dan anggota tim terdiri dari Prof. Sri Widiyantoro (Geofosika ITB), Dr. Wahyu Triyoso (Geofisika ITB), Dr. Danny Hilman (Geoteknologi LIPI), Ir. Engkon Kertapati (Pusat Penelitian Geologi), Dr. Irwan Meilano (Geodesi ITB),
Drs. Suhardjono (BMKG-Geofisika), Ir. M. Asrurifak, MT (Teknik Sipil ITB), Ir. M. Ridwan (Litbang Kim PU)

Peta gempa yang dihasilkan adalah Probabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) Map, yang merupakan peta percepatan tanah maksimum di batuan dasar sebagai akibat gempa pada suatu wilayah oleh suatu sumber gempa tertentu.

Menurut anggota Tim Sembilan Dr. Irwan Meilono, peta ini diharapkan bisa bermanfaat untuk keperluan perancangan bangunan tahan gempa, jembatan, perencanaan wilayah, dan lain sebagainya.

”Saat ini kita masih menggunakan peta gempa yang menjadi acuan dari SNI tahun 2002 (SNI 03-1726-2002),” jelas Irwan. Namun diharapkan peta baru yang dihasilkan dapat menjadi standar baru dan disahkan sebagai bagian dari SNI 2010.

Ditambahkan Irwan, dalam penyusunan SNI yang baru (mungkin menjadi bagian dari SNI 2010) walaupun telah terdapat beberapa perbaikan dari SNI 2002,  peta baru ini menggunakan pendekatan 3D dan telah menggunakan prosedur baru dalam membuat PSHA yang digunakan oleh USGS. Namun dirinya mengatakan, fungsi atenuasi dan data yang digunakan masih belum optimal.

Misalnya, informasi detail mengenai sesar aktif seperti laju geser (slip-rate), maksimum magnitud dan perioda ulang (return period). Sesar di Sumatera relatif telah dipetakan dengan baik, tetapi untuk sesar di Jawa informasi yang cukup baik hanya dimiliki untuk sesar Cimandi, sesar Lembang, Sesar Opak, Sesar Lasem dan Pati.

”Masih banyak sesar lainnya yang belum bisa dimasukan, apalagi sesar-sesar di Indonesia Timur. Karena kekurangan data hasil riset terutama estimasi laju geser dan return period,” ungkapnya.

PSHA Map Masih Jauh Dari Sempurna

Peta yang dihasilkan yaitu peta PGA dan Spektra Percepatan untuk short period (0.2 sec) dan untuk 1 sec period untuk kemungkinan terlampaui 10% dalam 50 tahun (atau gempa 475 tahun) dan 2% dalam 50 tahun (atau gempa 2475 tahun).

Irwan menambahkan, dalam pekerjaan peta baru ini telah disiapkan juga skenario perhitungan di permukaan dengan memperhitungkan faktor amplikasi dengan menggunakan beberapa skenario jenis tanah. Sedangkan untuk struktur yang sifatnya khusus, seperti pembangkit listrik dan lainnya, untuk site effect sangat disarankan untuk melakukan investigasi detail, selain menggunakan data PGA dan spektra yg telah dibuat di batuan dasar.

Walaupun peta ini merupakan upaya terbaik yang dilakukan saat itu, tetapi hanya sedikit sekali sesar aktif yang bisa kita identifikasi seperti laju gesernya (secara geologis dan geodetis), perioda ulang gempa dan maksimum maknitudenya. Padahal bukti morphologis dan kegempaannya jelas.

Dirinya mengakui hazard map (PSHA) yang dibuat masih jauh dari sempurna. Seperti kemungkinan adanya sesar aktif yang berlokasi dekat dengan Jakarta atau Surabaya, masih belum bisa diidentifikasi dengan baik.

”Mudah-mudahan peta ini tidak menjadi akhir tetapi merupakan awal dalam upaya bersama meminimalisasi kemungkinan bencana akibat gempa,” ungkapnya.

Dengan secara sistematis memetakan sumber-sumbernya, dan melakukan updating peta gempa secara berkala. Seperti yang dilakukan hampir setiap tahun oleh negara-negara maju (Jepang dan US).

Apresiasi dari SKP BSB

Sementara itu, gagasan pembuatan peta hazard gempa (PSHA) mendapat apresiasi dari berbagai pihak, terutama dari kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB).

Sebagaimana disampaikan Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana,  Erick Ridzky, pada saat pertemuan dengan Rektor ITB, Prof. Ahmaloka beberapa waktu lalu, " Kita bisa memahami gempa tidak hanya sebagai sumber bencana tetapi juga sebagai 'aset' dengan memahami perilaku bumi yang kita tinggali,  yang memiliki implikasi terhadap kehidupansosial, penyelamatan jiwa, dan secara ekonomis terhadap keamanan pembangunan dan investasi".

Kemudian dikatakannya, bahwa dengan adanya peta hazard gempa ini, sangat bermanfaat bagi pembangunan wilayah, tata ruang, keamanan investasi dan adaptasi masyarakat dalam upaya mitigasi yang  diakibatkan gempabumi.

"Kami sangat mengapresiasi tim pakar gempa dan Kementerian PU dalam penyelesaian peta hazard ini", demikian tegasnya kepada wartawan.(laporan Rusman/khusus)

 

Arsip Berita