Kamis, 24 Mei 2012
AEKI Dorong Petani Kembangkan Kopi Organik
Sabtu, 03 Juli 2010 09:38
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 3/7 (SIGAP) - Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Lampung mendorong petani untuk mengembangkan budidaya kopi organik.


"AEKI Lampung yang tergabung dalam tim pembina perkopian daerah itu segera menyosialisasikan pengelolaan kopi organik kepada petani," kata Ketua Renlitbang AEKI Lampung, Muchtar Lutfie, di Bandarlampung, Jumat.

Dirinya menyebutkan, kopi organik sangat diminati pembeli dari luar negeri seperti Jepang, Amerika Serikat serta sejumlah negara di kawasan Eropa.

Pembeli dari luar negeri itu, katanya, menginginkan kopi yang tidak tercampur dengan pestisida, bebas residu dan bahan kimia lainnya.

"Mereka mengingingkan kopi yang tidak tercampur bahan kimia, kendati harganya lebih mahal," kata dia.

Karena itu, kata Lutfie, AEKI Lampung segera menyosialisasikan cara pengelolaan kopi organik itu kepada petani di sentra-sentra perkebunan kopi di Lampung.

Sentra perkebunan kopi di Lampung yakni Kabupaten Lampung Barat, Tanggamus, Waykanan, Lampung Utara, dan Pesawaran.

Selain itu, pihaknya juga akan melihat bantuan bibit dari AEKI dan Kementerian Pertanian sebanyak 30.000 batang yang disalurkan kepada petani di sentra perkebunan kopi itu tahun 2007 lalu.

"Pada 2009 lalu juga AEKI memberikan bantuan bibit sebanyak 50.000 batang," kata dia.

Lampung, katanya , merupakan penghasil kopi robusta terbesar di Indonesia dengan rata-rata sekitar 142 ribu ton/tahun dengan luas areal sekitar 163.000 ha lebih.

Potensi itu, menurutnya, cukup bagus bila dikembangkan budidaya kopi organik. "Selama ini, petani Lampung hanya mengurusi kopi robusta untuk komersial saja,” ujarnya.
Karena pemasaran terbatas, petani hanya menjual biji kopi yang dirawat tanpa menggunakan pupuk atau obat kimia itu dalam kondisi mentah. Penjualan kopi berbentuk bubuk atau biji sangrai sulit dilakukan karena akan kalah dengan kopi bubuk kemasan bermerk yang beredar di pasar.
Padahal, harga jual biji kopi mentah amat rendah, hanya sekitar Rp 11.000 per kilogram. Jika sudah disangrai, harga kopi naik menjadi Rp 35.000 per kilogram, dan akan semakin mahal untuk kopi berbentuk bubuk, yakni sekitar Rp 50.000-Rp 55.000 per kilogram .
Sulitnya pemasaran, juga dirasakan oleh sejumlah daerah di Jawa. Akibatnya  petani enggan merawat tanaman dengan baik. Tanaman kopi seluas sekitar 132 hektar yang tersebar di Pedukuhan Nglambur, Wonogiri, Nyemani, dan Madigondo, dibiarkan tumbuh seadanya. Meski begitu, hasil panen kopi tetap baik, sekitar enam ton per tahun.
"Kami membutuhkan perhatian dari pemerintah daerah dalam bentuk penyuluhan pertanian dan bimbingan pemasaran. Sebab, jika kondisi ini dibiarkan, kami khawatir perkebunan kopi di Sidoharjo akan punah. Lahan perkebunan kopi yang digarap serius juga bisa menjadi lokasi agrowisata," kata Sumardi, penyuluh swakarsa di pedukuhan Madigondo seperti dituturkan  kepada Kompas.  (wa prasetya/an)

 

 

Arsip Berita