Kamis, 24 Mei 2012
Banjarnegara Surplus Bahan Pangan Pokok
Rabu, 30 Juni 2010 11:15
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 30/6 (SIGAP) - Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, yang baru lepas dari status daerah tertinggal, berhasil surplus bahan pangan pokok, demikian disampaikan Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara Ahmad Nurudin.

"Data yang kami himpun menyebutkan bahwa ketersediaan pangan di Kabupaten Banjarnegara, khususnya bahan pangan pokok relatif terus meningkat," katanya dalam rapat koordinasi Dewan Ketahanan Pangan Kabupaten Banjarnegara di Banjarnegara, Selasa.

Menurut Nurudin, komoditas beras tahun ini mengalami surplus sebanyak 38.544 ton, jagung surplus 53.275 ton, kedelai surplus 5.443 ton, kacang tanah surplus 4.973 ton, dan ubi kayu (singkong) surplus 55.048 ton.

Kendati demikian, lanjutnya, ada 4 bahan pangan yaitu ikan, daging, telur, dan susu yang tahun ini masih mengalami kekurangan stok.

"Secara umum, kondisi pangan di Kabupaten Banjarnegara cukup mantap, namun adanya kondisi iklim yang sulit diprediksi seperti sekarang ini, kita sulit mengantisipasi keadaan atau bencana," katanya.

Oleh karena itu, kata Nuruddin, pihaknya wajib mempersiapkan diri dengan berupaya meningkatkan cadangan pangan dengan lumbung pangan panceklik dan lumbung pangan hidup serta menggali dan mengembangkan potensi sumber pangan lokal.

Sementara itu, Asisten Bidang Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Banjarnegara Aryadi Joko Pradono mengatakan, Dewan Ketahanan Pangan tidak boleh lengah meskipun Banjarnegara baru saja merayakan keberhasilan lepas dari predikat kabupaten tertinggal.

Menurut Joko, keberhasilan tersebut justru merupakan tugas berat bagi Dewan Ketahanan Pangan untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa kemajuan tersebut benar-benar dapat dirasakan masyarakat.

"Khusus bidang ketahanan pangan, kami ingatkan bahwa seiring meningkatnya jumlah penduduk, maka permintaan pangan pun terus meningkat sedangkan sumber daya lahan dan air semakin sedikit," katanya.

Belum lagi, lanjutnya, ketergantungan masyarakat pada beras yang amat tinggi, harus segera dicari jalan keluarnya, misalnya dengan diversifikasi pangan.

Terkait berkembangnya era perdagangan dan ekonomi global, dikatakannya, kebijakan proteksi dan promosi pangan berbasis lokal mutlak diperlukan.

Gunawan, anggota Pokjakpus (Kelompok Kerja Khusus)  Dewan Ketahanan Pangan memandang, upaya proteksi dan promosi pangan berbasis lokal untuk lebih memperkuat kemandirian  produksi, dan konsumsi pangan yang berbasis teknologi pangan dan pasca panen, selain menggali keanekaragaman benih, dan makanan yang lebih luas.

“Hal ini sesuai dengan perpres tentang penganekaragaman pangan berbasis sumberdaya lokal, harapannya akan menjadi percepatan.” Pungkasnya.  (laporan wa prasetya/ant)

 

 

Arsip Berita