Kamis, 24 Mei 2012
Laut Lepas Sumatera Diprediksi Bakal Terjadi Gempa
Rabu, 30 Juni 2010 03:58
AddThis Social Bookmark Button

 

Jakarta, 30/6 (SIGAP) -  Prediksi akan terjadi gempa bumi lebih besar di laut lepas Sumatera dan kota Padang. Bila ini terjadi akan menimbulkan gelombang tsunami dengan kekuatan destruktif yang jauh lebih besar daripada gelombang tsunami besar yang terjadi di Asia Selatan pada 2004 lalu.

 

Demikian disampaikan  sekelompok ilmuwan pakar gempa bumi yang dipimpin oleh John McCloskey, ketika melayangkan surat ke majalah Nature Geoscience Inggris, seperti dilansir laman tribunews.

Profesor McCloskey yang berasal dari Universitas Astor Irlandia Utara itu telah memimpin sekelompok peneliti untuk melakukan riset dan analisa sejak terjadinya tsunami di Samudra Hindia pada 2004 silam.

Sebelumnya, tim ini pernah memperkirakan secara tepat gempa susulan yang terjadi di Sumatera pada 2005. McCloskey mengatakan, pemerintah seharusnya mengambil tindakan pencegahan sebelum gempa terjadi, dan tak hanya baru memberikan pertolongan setelah bencana terjadi.

Para peneliti tersebut menunjukkan, penyebab ancaman gempa kali ini adalah karena tekanan pada ceruk laut Palung Sunda yang terus menerus meningkat tekanannya selama 200 tahun terakhir ini.

Palung Sunda ini posisinya sejajar dengan garis pantai barat pulau Sumatra, yang merupakan salah satu barisan titik gempa terkenal di seluruh dunia. Dalam surat tersebut para ilmuwan tidak segan-segan menunjukkan bahwa lempengan Mentawai Patch kini "telah mendekati ambang batas", dan menyatakan bahwa gempa tidak dapat dihindari lagi. Dan wilayah ini dikenal dengan Kepulauan Mentawai di Indonesia.

Umumnya para ilmuwan gempa tidak dapat memastikan kapan gempa akan terjadi dan seberapa besar kekuatannya, demikian kelompok ini mengumumkan.

"Di wilayah Mentawai ini kemungkinan akan terjadi gempa dahsyat berkekuatan 8,5 skala Richter, dan akan menimbulkan tsunami besar", yang artinya tsunami besar yang melanda Asia Selatan pada 2004 silam akan terulang kembali, bahkan mungkin akan lebih parah.

McCloskey pernah memperingatkan bahwa di wilayah gempa Indonesia akan terjadi gempa berkekuatan 8,5 skala Richter, dan akan menimbulkan gelombang tsunami, dan perkiraannya itu pun menjadi kenyataan 2 minggu kemudian.

Pada 28 Maret 2005, di Pulau Simeulue, Indonesia, terjadi gempa yang berkekuatan 8,6 skala Richter dengan menimbulkan gelombang tsunami setinggi 3 meter. Di bagian bawah Pulau Siberut di dekat Sumatera pernah terjadi gempa berkekuatan 8,7 skala Richter pada 1797, yang menyebabkan lempeng patahan bergeser sejauh 10 meter dan menyebabkan gelombang tsunami dan sempat menenggelamkan Padang dan daerah sekitarnya. Sejak saat itu tekanan pada lempeng samudra tersebut terus menerus terakumulasi, dan gempa dasyat yang terjadi tahun lalu belum mampu menyurutkan tenaga tekanan yang mendesak kepulauan Mentawai tersebut.

Gempa mungkin berdampak pada lempeng kulit bumi, menurut penuturan Paul Mann, ilmuwan geofisika dari Universitas Texas Austin, pada 15 Januari lalu mengungkapkan, peringatan tersebut ditujukan kepada negara Haiti yang baru saja dilanda bencana gempa beserta negara-negara di sekitarnya, agar mempersiapkan diri dalam menghadapi gempa yang lebih besar yang akan segera terjadi.

Ia menunjukkan, meskipun tekanan lempeng di Port-au-Prince telah agak menurun, namun lempengan yang bersebelahan dengannya justru sedang meningkat terus tekanannya.

Terangkat  1-2 m
Sebelumnya,  Selasa (29 /6) seperti yang disampaikan pada laman okezone, ahli geologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman, memprediksi jika gempa besar terjadi di Mentawai Sipora maka permukaan pantai akan terangkat sampai 2 meter.

Sementara permukaan pantai Kota Padang akan turun 1,5 meter. Danny  menyakini  gempa berkekuatan 8,9 SR itu akan terjadi meski tak bisa dipastikan kapan, namun potensinya makin nyata.

”Mentawai berpotensi gempa dengan kekuatan 8,9 SR,” demikian pernyataan Danny saat presentasi di depan Pemda dan masyarakat di aula Bappeda beberapa waktu lalu.

Menurut Danny, bidang yang belum mengeluarkan energi di bawah pulau Siberut dan sebagaian Sipora memiliki luas 100 kilometer x 400 meter.

Jika gempa besar itu terjadi, kata dia, Sipora akan terangkat sekitar 2 meter sedangkan Padang akan turun 1,5 meter.  ”Pemetaan dampak gempa dan tsunami di kota Padang juga telah mereka buat dan disampaikan dalam presentasi,” katanya.

Dalam pantauan GPS yang dipasang LIPI, di beberapa tempat di Mentawai, terlihat bahwa Sipora bergerak turun antara 5-10 milimeter per tahun.

Akan tetapi, jika gempa terjadi maka Sipora akan terangkat 2 meter. ”Saat gempa tahun 2007 yang lalu Tuapejat telah naik 23 sentimeter sedangkan Bulasat telah naik sekitar 80 sentimeter. Sementara Mentawai bergerak ke arah barat antara 5-7 sentimeter,” ungkapnya.

Tidak ada yang bisa menentukan kapan gempa akan terjadi, namun berdasarkan penelitian yang mereka lakukan sejak tahun 1999 pengulangan itu akan terjadi karena masanya telah sampai.

Danny dalam presentasinya mengatakan, bahwa telah terjadi beberapa kali gempa besar di Mentawai yakni pada tahun 1300, 1350, 1380, 1606, 1685,1797,1833 dan 2007. Namun potensi gempa pada bidang dibawah Siberut dan Barat Sipora sama sekali belum mengeluarkan energinya.

Mengacu pada hasil penelitian yang mereka lakukan selama ini, potensi tsunami di pantai Barat Sipora diprediksi mencapai ketinggian gelombang 15 meter, sedangkan di pantai Timur Sipora hanya mencapai 1 meter. Hal ini, kata Danny, dikarenakan energi gelombang tsunami telah berkurang setelah membentur bagian Barat Pulau Sipora. Namun menurutnya mereka masih melakukan penelitian di mana titik yang rawan tsunami setinggi 15 meter itu.

”Untuk Kota Padang, tsunaminya paling tinggi satu meter, namun akan merendam daratan hingga tiga kilometer dari pantai karena Padang rendah. Untuk itu perlu diantisipasi bagaimana menyelamatkan sekitar 60 ribu lebih warga Kota Padang,” pungkasnya.(laporan wa prasetya)

 

 

Arsip Berita