Kamis, 24 Mei 2012
Warga Rambah 400 hektar Hutan Semenanjung Kampar
Selasa, 29 Juni 2010 08:04
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 29/6 (SIGAP) - Sejumlah warga yang tinggal di kawasan lahan gambut Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, sedikitnya telah merambah 400 hektare hutan yang menjadi bagian dari konsesi lahan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).  "Sekitar 400 hektare hutan di Semenanjung Kampar kini berada dalam kondisi yang rusak akibat adanya aksi penebangan liar oleh kaum pendatang," ujar Guntur, Manajer Operasional RAPP Estate Meranti.

Dalam pantauan udara menggunakan helikopter yang mengitari hutan lahan gambut Semenanjung Kampar dan Hutan Lindung Kerumutan akhir pekan lalu, terlihat kawasan hutan yang rusak berada tak jauh dari lokasi kamp perlindungan iklim yang dibangun Greenpeace.

Sejumlah batang pohon dan kayu yang sudah dibelah dari aktivitas ilegal itu, juga terlihat bergelimpangan pada sejumlah titik kawasan hutan yang berada di Dusun Sesunduk, Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Semenanjung Kampar.

Kepulan asap tersebut berasal dari tidak kurang 15 titik pembakaran lahan, baik di area gambut Semenanjung Kampar maupun di kawasan Hutan Lindung Kerumutan yang merupakan habitat hewan langka, seperti harimau sumatra.

Dirinya menduga, kawasan lahan gambut itu bakal diubah warga menjadi perkebunan kelapa sawit setelah mengantongi  izin dari pemerintah setempat.  Pihak RAPP sendiri telah melaporkan kepada pihak kepolisian dan instansi terkait tentang adanya aksi ilegal pada lahan konsesi perusahaan penghasil bubur kertas itu.  Aksi penebangan liar tercatat mulai dilakukan warga pada November 2009, dan terus berlanjut hingga kini.

"Kami sebagai pemegang kuasa konsesi di Semenanjung Kampar sudah menegur para pendatang dan juga minta bantu pemerintah menyelesaikan masalah ini, karena kondisi yang terjadi berada di luar kendali kami," katanya.

Menanggapi masalah ini, Rachmat Witoelar, mantan menteri lingkungan hidup, mengaku prihatin “ Saya sedih. Mestinya, kita harus menyadari bahwa hutan itu adalah aset bangsa. Karena itu, jaga dan peliharalah kelestariannya,” katanya pada SIGAP, Selasa (29/6). (laporan Sofyan Badrie/ant)

 

Arsip Berita