Kamis, 24 Mei 2012
Peringatan Tsunami Harus Tepat
Selasa, 29 Juni 2010 01:37
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta 29/6 (SIGAP) - Gempa dan tsunami yang melanda wilayah Aceh pada Desember 2004 mengagetkan seluruh masyarakat Indonesia. Ratusan ribu orang tewas akibat peristiwa tersebut. Setuju atau tidak, pasca gempa dan tsunami Aceh 2004 itu membuat masyarakat Indonesia mulai peduli dan sadar akan rawannya wilayah Indonesia dari gempa dan tsunami.

“Bangsa Indonesia mulai peduli bencana setelah Tsunami yang melanda Aceh tahun 2004”, demikian pernyataan singkat P.P. Purwatmojo, Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana kepada SIGAP, Senin (28/6).

Sebagaimana diketahui, setelah gempa dan tsunami di Aceh, kejadian gempa terus melanda wilayah Indonesia, seperti di Yogyakarta, Padang, Serui, dan terakhir Tasikmalaya. Tsunami juga sempat kembali terjadi pada tahun 2007 di wilayah Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Melihat rawannya wilayah Indonesia terhadap bahaya gempa dan tsunami, peringatan akan potensi tsunami semakin vital keberadaannya. Peringatan terjadinya potensi tsunami sendiri harus dilakukan secara cermat dan hati-hati, antara lain disesuaikan dengan karakteristik gempa pembangkit tsunami yang pernah terjadi di daerah sekitarnya.

Saat ini, parameternya hanya berdasarkan kejadian gempa yang dicocokkan dengan kriteria gempa pembangkit tsunami yang telah ditetapkan. “Hal ini menyebabkan kekurangtepatan pada peringatan tsunami. Harus diingat, karakteristik kegempaan di Indonesia berbeda dengan daerah lain. Di Indonesia bisa menghasilkan tsunami lebih besar,” ujar Guru Besar Seismologi Institut Teknologi Bandung Nanang Puspito ketika menyampaikan pidato ilmiah berjudul ”Kontribusi Seismologi pada Riset dan Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami” di Bandung, Jumat (25/6) sebagaimana diberitakan Kompas, Senin.

Nanang mengatakan, penentuan peringatan tsunami di Indonesia masih sekadar berdasarkan analisis parameter gempa. Kriterianya adalah pusat gempa berada di laut, kedalaman pusat gempa kurang dari 70 kilometer, dan magnituda lebih dari 7,0 skala Richter. Dengan menggunakan sistem ini, dalam waktu kurang dari lima menit Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bisa menganalisis apakah gempa yang terjadi berpotensi tsunami atau tidak. Akan tetapi, sistem ini masih menyimpan banyak kelemahan sehingga berpotensi terjadi kekeliruan.

Pemilihan bahasa juga harus tepat. Saat ini banyak peringatan tsunami yang diumumkan oleh BMKG namun kemudian dicabut kembali. Jika hal tersebut terlalu sering, dikhawatirkan kepercayaan masyarakat berkurang, bahkan bisa tak percaya lagi pada peringatan tsunami. (laporan Budi. P/komp)

 

 

Arsip Berita