Kamis, 24 Mei 2012
Banten Masuk Daerah Endemis Malaria
Sabtu, 26 Juni 2010 09:59
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 26/6 (SIGAP)- Dinas Kesehatan Provinsi Banten menyatakan wilayah Banten hingga kini masih termasuk daerah endemis penyebaran malaria. Dua daerah yang berada dipesisir pantai Kebupaten Lebak dan Pandeglang menjadi perhatian dinas kesehatan setempat.

 

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, dr Djaja Budhi Suhardja, pihaknya saat ini terus melakukan upaya pencegahan dini agar penyakit yang mematikan itu tidak menimpa masyarakat pesisir pantai.

Lebih lanjut dijelaskan, kegiatan pencegahan dimaksud dengan melakukan gerakan kebersihan lingkungan di sekitar pemukiman warga. Pihaknya juga akan melakukan penyemprotan larvaciding guna membunuh jentik-jentik nyamuk anopheles yang berkembangbiak di laguna-laguna pantai.

Kegiatan lain yang dilakukan dengan menggelar pelatihan bimbingan teknis bagi petugas laboratorium dan petugas lapangan agar terdeteksi munculnya gejala penyakit malaria tersebut.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Bayah Kabupaten Lebak, H Edi Sunaedi mengatakan, pihaknya terus melakukan penyuluhan dan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PBBS) didaerah rawan malaria.

Menurutnya puskesmas juga melakukan tindakan pengobatan jika mereka terserang penyakit malaria. Dijelaskan bila temui pasien yang positif terkena malaria akan diambil tindakan perawatan di puskemas dan rumah sakit. Namun diakui hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat malaria.

"Kami minta warga jika alami demam tinggi serta dingin menggigil maka segera pergi untuk berobat ke Puskesmas maupun rumah sakit," katanya.

Berdasarkan data di Kecamatan Bayah selama Januari hingga Mei 2010 tercatat 61 dinyatakan positif dan 559 klinis.

Sebenarnya di Jawa kasus penyakit malaria tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan daerah lain seperti di Papua. Namun menurut dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, drg. Sulisyadi Wahyu, MARS., daerah pesisir memang rentan dengan wadah malaria ini. “Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya penyakit malaria ini,” jelasnya kepada SIGAP, Sabtu (26/6).

Terkait dengan itu dirinya mengharapkan perlunya kerjasama diantara lembaga terkait, baik pemerintah pusat dan daerah. Selama ini baik pemarintah daerah masih pusat masih bersifat reaktif. “Padahal pencegahan akan lebih baik dilakukan dini,” tegasnya.  Hal lain yang perlu dilakukan menurutnya adalah mengevaluasi soal kebijakan kesehatan ini. (laporan rusman/ant.)

 

 

Arsip Berita