Kamis, 24 Mei 2012
18 Titik Bantaran Sungai HST Rawan Longsor
Jumat, 25 Juni 2010 08:09
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 25/6 (Sigap) - Berdasarkan data Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan, tercatat 18 titik rawan longsor di kabupaten tersebut, ujar Saidin, Kepala Bidang SDA PU HST.

"Kesemua titik yang ada merupakan hasil laporan masyarakat yang telah dilakukan pengecekan lokasi oleh petugas kami," ujarnya di Barabai, ibu kota HST, sekitar 165 Km Utara Banjarmasin.

Seluruh titik tersebut merupakan kawasan rawan longsor yang khusus berada di daerah bantaran sungai. Sedang kawasan rawan longsor untuk kawasan yang berada di daerah daratan penanganannya bukan kewenangan Bidang SDA sehingga mereka tidak memiliki data tentang itu.

Dirinya menjelaskan, 18 titik rawan longsor itu terletak di tiga sungai yang ada di HST. "Titik-titik rawan longsor itu tersebar di Sungai Haruyan atau Sungai Tabu Darat, Sungai Batang Alai dan Sungai Barabai," jelasya.

Untuk kawasan bantaran di Sungai Haruyan atau Sungai Tabu Darat, tercatat terdapat empat titik rawan. Titik-titik itu tersebar di dua kecamatan, yaitu Kecamatan Haruyan dan Labuan Amas Selatan (LAS), yang masing-masing sebanyak dua titik.

Sungai Batang Alai, berdasarkan data terakhir memiliki enam titik rawan pada bantaran sungainya. Titik-titik itu terdapat di Kecamatan Batang Alai Utara (BAU), Batang Alai Selatan (BAS), dan Batang Alai Timur (BAT). Tercatat, di bantaran sungai yang berada di kawasan BAU memiliki tiga titik rawan, dua titik di kawasan BAS dan satu di kawasan BAT.

Sementara itu, pakar geologi terapan Institut Teknologi Bandung (ITB) Imam Sadisun mengatakan, kejadian longsor bisa diprediksi warga yang tinggal di dekat lereng atau di bantaran sungai. "Gejala longsor bisa diamati, terutama untuk longsor yang pergerakannya lambat. Namun kalau longsor yang pergerakannya cepat sangat sulit diprediksi," kata Imam, kepada SIGAP,  Jumat (25/6).

Imam mengatakan ada beberapa gejala longsor yang bisa diamati seperti adanya retakan di kepala longsor (bagian atas lereng), dan pohon atau tiang yang cenderung condong ke arah bagian bawah lereng. "Selain itu terdapat retakan yang sulit dilihat, namun dapat dikenali dari tingkat daya serap air yang lebih tinggi," ujar Imam.

Ia meminta pihak pemda dan dinas terkait meningkatkan sosialisasi kepada warga di daerah rawan longsor. "Sejauh ini, sosialisasi belum menyentuh warga di daerah rawan longsor yang terpencil. Padahal, sosialisasi merupakan upaya paling efektif untuk memperingatkan warga di areal rawan gerakan tanah," paparnya. (laporan Sofyan Badrie/ant.)

 

 

Arsip Berita