Kamis, 24 Mei 2012
Guna Kepentingan Benchmark, SKP BSB Gandeng Harvard
Kamis, 24 Juni 2010 01:26
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 24/6 (SIGAP)-Laporan Khusus- Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bencana & Bantuan Sosial berencana menyelenggarakan Kegiatan Diskusi dengan topik “Kepemimipinan Dalam Pengelolaan Bencana; Mencari Formulasi untuk Indonesia”  yang akan diselenggarakan tanggal 24 Juni 2010, bertempat di Ruang Pertemuan gedung eks-Binagraha, Istana Kepresidenan RI.

Menurut Soeyanto Phd, sebagai inisiator kegiatan ini, Indonesia adalah salah satu negara yang cukup rawan terhadap berbagai jenis bencana, seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, longsor, kekeringan, berbagai wabah penyakit, dll. Namun demikian,  belum semua komponen bangsa ini memiliki kesadaran akan hal tersebut. Akibatnya sering terjadi kesenjangan koordinasi, informasi dan kebijakan antar berbagai sektor pada saat terjadi bencana.

Pengalaman sebelumnya, lanjut Soeyanto, penanganan bencana seringnya hanya terfokus pada respon darurat saja. Gerakan bantuan yang dikoordinasi masyarakat dan lembaga lembaga swadaya masyarakat pada kenyataannya, lebih banyak terfokus pada penggalangan bantuan untuk kondisi darurat. Disisi lain,penanganan bencana secara komprehensif seharusnya meliputi saat sebelum terjadinya bencana (kesiapsiagaan dan mitigasi), pada saat terjadinya bencana (tanggap darurat dan bantuan darurat), dan setelah terjadinya bencana (rehabilitasi dan rekonstruksi). Penanganan bencana juga bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga harus melibatkan peran masyarakat secara luas.

Terkait kompleksitas masalah yang dihadapi tersebut, Soeyanto menekankan terutama menyangkut frekuensi bencana, jenis bencana, luas wilayah serta banyaknya jejaring yang harus dikoordinasikan dalam hal penanganan bencana di Indonesia. “hal ini kita sadari telah berpengaruh pada  implikasi secara langsung pada model kepemimpinan yang dibutuhkan untuk mengelola secara efektif,  seluruh  tahapan penanganan bencana di Indonesia,” tuturnya.

“ karenanya, dalam kerangka peningkatan kapasitas kepemimpinan lembaga-lembaga yang terkait dengan penanganan bencana di Indonesia, termasuk kepemimpinan di tingkat daerah,” jelas  pria kelahiran Lampung, yang akrab dipanggil dengan nama Yanto.

“kami merasa perlu melakukan benchmarking,  melalui komparasi pengalaman penanganan bencana  di negara lain, yang memiliki kompleksitas permasalahan dan intensitas bencana yang serupa dengan Indonesia. Terutama lagi, kapasitas kepemimpinan dalam hal penanganan bencana dengan skala yang besar,” pungkasnya.

Secara terpisah, Drs. Purwatmojo Msi menjelaskan, kegiatan ini adalah upaya-upaya lanjutan dari diskusi internal maupun eksternal, menyangkut prioitas mitigasi kebencanaan.

Hal-hal yang akan dibahas dalam panel nanti tidak beranjak dari, deskripsi tentang bahaya dan kerentanan Indonesia terhadap bencana gempabumi serta besarnya resiko yang dihadapi, assesment tentang proses penanganan bencana di Indonesia saat ini dan identifikasi peluang peningkatan kemampuan manajemen resiko bencana di tiap lini proses tersebut.

Juga pentingnya melakukan komparasi penanganan bencana di negara lain, seperti USA dan China dalam rangka peningkatan kapasitas stakeholder penanganan bencana di Indonesia, juga adanya rekomendasi tentang formulasi model kepemimpinan yang tepat dan sesuai dalam  penanganan bencana di Indonesia.

“Kegiatan ini akan didiselenggarakan oleh Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, yang  bekerjasama dengan Tim Harvard Kennedy School USA yang terdiri dari pakar di bidang Crisis Management Leadership.” Jelasnya.

Ir. Erick Ridzky, ketua panitya penyelenggara, memastikan petemuan tersebut akan memiliki bobot program yang tinggi. “secara substansi, kami akan memliki modeling, bagi kurilkulum pelatihan manajemen krisis untuk pemimpin lokal,” jelasanya.

Dikatakannya, pertemuan ini selain akan diikuti tim dari harvard seperti prof. Anthony Saich, Arnold M. Howitt, Edward Cunningham dsb, juga akan dihadiri lembaga-lembaga terkait, tidak lupa para ahli, yang sebelumnya pernah bekerjasama untuk meletakan paradigma baru penangan bencana, bersama dengan K SKP BSB. Demikian di sampaikan daftar peserta dan rundonwn acara, seperti dalam release kepada SIGAP. (laporan anwar sadat - wa prasetia)

RUNDOWN DISKUSI >>

 

Arsip Berita