Kamis, 24 Mei 2012
Relawan Latih Pengungsi Korban Merapi Buat Kerajinan Tangan
Selasa, 14 Juni 2011 02:48
AddThis Social Bookmark Button

Magelang, 14/6 (SIGAP) - Para pengungsi korban banjir lahar dingin Merapi di hunian sementara lapangan Desa Jumoyo, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, dilatih membuat kerajinan tangan oleh relawan dari Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Grahita (BBRSBG) Kartini Temanggung.

Kepala BBRSBG Kartini Soerjo Darsono, di Magelang, Senin (13/6) mengatakan, hasil pelatihan tersebut diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi pengungsi agar bisa mandiri.

"Selama ini bantuan cenderung diberikan dalam bentuk logistik. Sudah saatnya pengungsi diberikan kail tidak lagi umpan. Kami berharap dengan pelatihan ini mereka akan kembali bekerja dan mendapatkan penghasilan," katanya.

Para pengungsi diberikan pelatihan membuat keset kain perca. Keset ini dibuat dengan memanfaatkan limbah kain sisa industri garmen. "Kami juga memberikan bantuan enam unit alat pembuat keset dan 600 kilogram bahan baku," katanya.

Mereka juga dilatih membuat kerajinan berbahan koran bekas dan serutan plastik. Limbah tersebut dibuat menjadi aneka bunga dan hasilnya dijual ke pasar. Keuntungan dari membuat kerajinan tangan tersebut digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pengungsi.

Menurut Darsono, sebelumnya tim reaksi cepat BBRSBG melakukan pemetaan di berbagai lokasi pengungsian untuk menentukan bantuan apa yang paling tepat untuk membantu pengungsi bangkit.

Dirinya menuturkan, hasil pemetaan diketahui pengungsi butuh bantuan pekerjaan untuk menata hidup mereka kembali.

Selain itu, katanya, ditemukan anak yang mengalami cerebal palsy (cp) atau kelayuan gerak, maka Tim Reaksi Cepat BBRSBG menerjunkan tim medis untuk melakukan terapi pada anak-anak korban bencana banjir lahar dingin.

Selama ini, katanya, BBRSBG menjalin kerja sama dengan PT Dian Perca Kendal untuk menampung produksi keset dari para pengungsi.

"Semua produksi keset pengungsi akan ditampung, berapa pun besarnya," katanya.

Seorang, pengungsi Ruhimah (61) mengatakan bahwa ada 15 pengungsi yang setiap hari membuat keset dari kain perca. Setiap hari mereka mampu membuat 12-13 keset dengan harga jual Rp 10 ribu per buah.

Kepala Desa Jumoyo Sungkono mengatakan, bahwa sejak erupsi Merapi sampai banjir lahar dingin banyak bantuan untuk para pengungsi. Namun demikian jarang ada bantuan yang bisa berlanjut menjadi mata pencaharian bagi para pengungsi.

"Kami menyambut baik bantuan ini. Mudah-mudahan kegiatan ini berguna untuk warga kami yang tengah menjadi korban lahar. Akan kami tambah lagi alatnya secara mandiri agar lebih banyak pengungsi yang bisa terlibat pembuatan keset," katanya. (laporan panji al husen/ant)

 

Arsip Berita