Kamis, 24 Mei 2012
Yayasan Layak: Sosialisasi Bangunan Aman Gempa Di Bengkulu Perlu Ditingkatkan
Senin, 13 Juni 2011 03:33
AddThis Social Bookmark Button

Bengkulu, 13/6 (SIGAP) - Sosialisasi bangunan aman terhadap gempa di kalangan masyarakat Bengkulu masih perlu ditingkatkan sebagai upaya mitigasi bencana karena daerah itu termasuk rawan gempa dan tsunami.

"Bangunan aman gempa baru sebatas konsep untuk membuat rancangan peraturan daerah tentang penanggulangan bencana, tapi belum tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat," kata Koordinator Program Yayasan Layak Bengkulu, Hema Malini, di Bengkulu, Senin (13/6).

Dirinya mengatakan, Bengkulu termasuk daerah rawan gempa bumi dan tsunami sehingga bangunan aman gempa penting disosialisasikan kepada masyarakat.

Namun, katanya, pilihan untuk mengganti struktur bangunan dengan konstruksi yang aman gempa, salah satunya adalah rumah biday yang berbahan baku bambu, kembali kepada keputusan masyarakat.

"Yang penting masyarakat mengerti bahwa potensi gempa bumi dan tsunami di daerah ini sangat tinggi, setelah itu pilihan kembali di tangan mereka," katanya.

Hema mengatakan, gempa yang melanda Jepang dengan kekuatan 8,9 skala Richter beberapa waktu lalu menjadi bukti bahwa penggunaan gedung bertingkat yang aman gempa bisa mengurangi risiko bencana.

Hal itu, katanya, harus menjadi pelajaran masyarakat dan pemerintah daerah Bengkulu tentang pentingnya mitigasi dari struktur bangunan untuk mengurangi jatuhnya korban jiwa.

"Kita bisa lihat bagaimana getaran gempa di gedung-gedung bertingkat di beberapa kota, tapi tidak roboh, ini sangat berguna untuk mengurangi jatuhnya korban," katanya.

Hema mengatakan, masyarakat Bengkulu memiliki bangunan aman gempa yang disebut biday dengan bahan utama bambu.

Rangka bagian dalam bangunan yang terbuat dari bambu tersebut membuat struktur bangunan lebih ringan sehingga runtuhannya tidak mengakibatkan kematian.

"Jenis bangunan ini sudah banyak dikembangkan di daerah pedesaan dimana nenek moyang mereka memang menggunakan rangka bambu yang disebut biday ini lalu diplester dari luar dengan semen," katanya.

Namun, katanya, model bangunan itu masih jarang ditemui di Kota Bengkulu, khususnya bangunan bertingkat di dalam kota.

Terkait rencana pemerintah membangun gedung penyelamatan diri atau "escape building", katanya, perlu menerapkan bangunan aman gempa tersebut.

Hema menjelaskan, saat gempa terjadi, bukan tidak mungkin gedung penyelamatan diri itu juga ikut roboh.

"Selain banguanan aman gempa, kesiapsiagaan masyarakat juga harus diperhitungkan sehingga saat bencana terjadi masyarakat siap dan tahu apa yang harus dilakukan, sehingga sosialisasi dan simulasi harus ditingkatkan," katanya. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita