Kamis, 24 Mei 2012
BTNUK Akan Tanam 2.000 Pohon Hijaukan Lahan Kritis
Jumat, 10 Juni 2011 01:43
AddThis Social Bookmark Button

Pandeglang, 10/6 (SIGAP) - Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, Provinsi Banten, akan menanam pohon 2.000 batang pada lahan kritis yang ada di kawasan TNUK.

"Penanaman akan kita lakukan dalam pekan ini, bekerja sama dengan PT Cibaliun Sumber Daya (CSD), perusahaan tambang emas dan perak," kata Kepala Balai TNUK Pandeglang Agus Priambudi di Pandeglang, Kamis.

Dalam kegiatan itu, kata Agus, juga akan dilibatkan warga yang tinggal di sekitar kawasan TNUK, yang merupakan hutan tropis terbesar di Pulau Jawa tersebut.

Mengenai luasan yang bisa ditanami, menurut Agus, sekitar empat hektare, dengan asumsi setiap hektare ditanami 500 batang.

Tingkat kerusakan hutan di kawasan TNUK Pandeglang hanya 2.100 hektare (ha) atau 2,76 persen dari luas kawasan tersebut mencapai 76 ribu ha, paling sedikit dibandingkan kerusakan hutan lain di Pulau Jawa.

Agus juga menjelaskan, 2.100 Ha kawasan yang rusak itu karena telah dijadikan sawah oleh masyarakat dan menjadi mata pencairan dari ribuah kepala keluarga warga yang ada di sekitar taman nasional tersebut.

Pemerintah, kata Agus, tidak melarang masyarakat yang telah membuka kawasan untuk dijadikan sawah itu dengan catatan tak akan ada penambahan areal persawahan dan warga harus ikut membantu menjaga kawasan TNUK.

Menurutnya, di sekitar TNUK terdapat 15 desa dengan jumlah penduduk 52 ribu jiwa, dan warga telah sepakat untuk menjaga kelestarian kawasan hutan yang menjadi "paru-paru" dunia itu.

Agus mengaku, optimistis dengan keterlibatan masyarakat dalam menjaga hutan maka kawasan TNUK akan tetap lestari.

TNUK merupakan kawasan pelestarian alam terpenting di Indonesia karena memiliki keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna dan berabgai tipe vegetasi serta merupakan "perwakilan" ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas.

TNUK memiliki tiga tipe ekosistem yakni perairan laut, pesisir pantai dan daratan, dengan keanekaragaman hayati yang melimpah. Dalam kawasan itu terdapat 700 jenis flora, 57 jenis di antaranya termasuk langka.

Selain ituk juga terdapat fauna berupa 35 jenis mamalia, 5 jenis primata, 59 jenis reptilia, 22 jenis amphibia, 240 jenis aves, 72 jenis insekta, 142 jenis fisces dan 33 jenis terumbu karang.

Kawasan tersebut memiliki fungsi perlindungan ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis dan ekosistemnya, pemanfaatan berbagai jenis secara lestari dan kesinambungan.

TNUK juga memiliki peranan sebagai sarana pendidikan, pelatihan dan penelitian, sumber plasma nutfah untuk menunjang budidaya serta sarana rekreasi.

Taman nasional tersebut juga merupakan habitat terakhir badak bercula satu (rhinocerus sondaicum) serta hewan langka lainnya yang kini terancam punah seperti banteng (bos javanicus), gibon jawa (hylobates oloch), anjing hutan (coun alpinus), harimau (panthera tigris), suruli (presbity aygula).(laporan sofyan/ant)

 

Arsip Berita