Kamis, 24 Mei 2012
Flu Burung Di Kabupaten Madiun Masih Mengancam
Kamis, 09 Juni 2011 14:38
AddThis Social Bookmark Button

Madiun, 9/6 (SIGAP) - Flu burung yang melanda daerah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, selama ini, masih terus mengancam, terbukti ratusan ayam di Desa Mojorayung, Kecamatan Wungu, mati mendadak akibat penyakit tersebut.

Seperti yang terjadi pada ratusan ayam potong milik peternak di Desa Mojorayung, Kecamatan Wungu, Sarno. Dirinya menyebutkan dalam tiga hari ini ratusan ayam miliknya mati mendadak.

"Sudah ada sekitar 140 ekor ayam saya yang mati mendadak. Ayam yang mati tersebut membiru dan mengeluarkan liur. Kata penilik Dinas Peternakan, ayam saya itu terkena gejala flu burung," ujar Sarno, kepada wartawan, Kamis (9/6).

Dirinya sudah berupaya melakukan pencegahan penyebaran penyakit flu burung itu dengan penyemprotan obat, namun tetap saja belum berhasil. Bahkan, serangan tidak hanya flu burung saja, namun juga virus penyebab "newcastle disease" (ND).

"Saya rugi hingga jutaan Rupiah, karena jumlah ayam yang mati mencapai ratusan. Baik terkena flu burung maupun tetelo," kata Sarno, lagi.

Guna mengurangi kerugian, peternak terpaksa memanen ayam potongnya lebih dini. Padahal, idealnya ayam potong dipanen pada usia 37-40 hari. Namun, karena takut mati mendadak lagi, terpaksa ia memanen pada usia 29-30 hari.

"Otomatis, berat ayam yang dipanen juga menurun. Berat ayam yang ideal, mencapai 2,5 kilogram perekor saat panen, kini beratnya hanya sekitar 1,8 kilogram per ekor," jelasnya.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Madiun, Santoso, membenarkan masih terjadi serangan flu burung dan tetelo di wialyahnya. Ini disebabkan karena anomali cuaca selama ini.

Data Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Madiun mencatat, selama Januari hingga awal Juni 2011, hanya satu kasus flu burung.

Kasus itu, terjadi di Desa Kranggan, Kecamatan Geger, dimana sebanyak 13 ekor ternak ayam, mati mendadak pada Maret lalu. Sedangkan untuk tetelo, tercatat sedikitnya sudah lima kasus kematian ayam dengan jumlah ayam yang mati mencapai 500 ekor.

Kasus kematian ayam akibat tetelo itu tersebar di beberapa kecamatan di antaranya Madiun, Jiwan, Kebonsari, Saradan, dan Pilangkenceng.

"Khusus kasus yang di Mojorayung itu sudah dilakukan "rapid test" dan hasilnya bukan flu burung, tapi tetelo. Gejala flu burung dan tetelo memang hampir sama," kata Santoso.

Selama tahun 2010, tercatat ada 3.861 ekor ayam yang mati akibat tetelo dan 15 kasus flu burung dengan jumlah kematian ayam sekitar 178 ekor. Karena itu, pihaknya mengimbau agar para peternak menjaga kebersihan kandang dan melakukan karantina pada ayam yang baru.(laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita