Kamis, 24 Mei 2012
Badan Geologi: Konsentrasi Gas CO2 Kawah Timbang Masih Tinggi
Selasa, 07 Juni 2011 04:45
AddThis Social Bookmark Button

Banjarnegara, 7/6 (SIGAP) - Badan Geologi menyatakan konsentrasi gas CO2 yang dikeluarkan Kawah Timbang, Gunung Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, masih tinggi.

Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Badan Geologi, Hendrasto, di Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Selasa (7/6) mengatakan, berdasarkan pengamatan pada pukul 00.00-06.00 WIB , konsentrasi gas CO2 yang dikeluarkan Kawah Timbang terekam maksimum 1,07 persen volume.

Kendati terlihat adanya penurunan konsentrasi CO2 jika dibanding beberapa hari sebelumnya, Hendrasto mengatakan, hal itu sebenarnya menunjukkan jika aktivitas Kawah Timbang masih fluktuatif.

"Kita akan lihat beberapa ke depan. Sebelumnya memang cenderung menurun, bahkan sempat turun hingga di bawah satu persen volume tapi kemudian naik lagi," katanya menegaskan.

Sementara mengenai aktivitas kegempaan, dirinya mengatakan, dalam pengamatan pada pukul 00.00-06.00 WIB tidak terekam adanya gempa.

Selain itu, kata Hendrasto, berdasarkan pengamatan menggunakan "thermal scan" tidak tampak adanya asap di Kawah Timbang.

Disinggung mengenai kondisi Kawah Sibendu, Dukuh Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, yang berjarak sekitar enam kilometer dari Kawah Timbang, Hendrasto mengatakan, kawah tersebut dalam kondisi normal.

"Saat ini konsentrasi kita pada Kawah Timbang. Kawah lainnya di Gunung Dieng tetap normal," katanya.

Seperti diketahui, Pemerintah Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mewaspadai tiga titik di Kawah Sibendu, Dukuh Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, karena terletak sekitar enam kilometer dari Kawah Timbang, Kabupaten Banjarnegara.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Perlindungan, Politik, dan Masyarakat Kabupaten Batang Agung Wisnu Barata di Batang, Senin (6/7), mengatakan bahwa saat ini tiga titik di Kawah Sibendu terus mengeluarkan asap yang dikhawatirkan mengandung gas CO2 seperti yang terjadi di Kawah Timbang.

"Kendati Kawah Timbang dinyatakan berisiko tinggi dengan jarak sekitar satu kilometer tetapi warga Dukuh Rejosari mengkhawatirkan aktivitas di tiga titik Kawah Sibendu," katanya.

Menurutnya, saat ini kondisi lingkungan di Desa Pranten masih normal dan belum ada pengaruh meluasnya gas beracun yang ditimbulkan oleh Kawah Timbang di Kabupaten Banjarnegera.

"Saat ini kondisi di lingkungan Desa Pranten masih normal. Hanya saja warga setempat mengkhawatirkan kemungkinan sumber mata air yang mengandung gas beracun," katanya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi peristiwa gas beracun di Desa Pranten, Bintoro Mulyo, dan Gerlang, pemerintah daerah setempat akan melakukan sosialisasi dan simulasi tentang penyelamatan bencana gas beracun.

"Selain itu, kami telah meminta kepala desa untuk menginformasikan pada masyarakat agar tetap bersikap tenang dan tidak mudah terpengaruh isu yang tidak jelas dan membuka posko," katanya.

Dirinya mengatakan, dari hasil pantauan di lokasi, sedikitnya 1.800 warga Desa Pranten meminta pemkab setempat untuk menyediakan alat pendeteksi gas beracun agar mereka bisa mengetahui kemungkinan yang ditimbulkan oleh Kawah Sibendu.

"Namun, permintaan dari warga itu belum bisa kami realisasikan karena akan dikoordinasikan dengan instansi terkait lainnya," katanya. (laporan roesman/ant)


 

Arsip Berita