Kamis, 24 Mei 2012
Dinas Perindustrian: Harga Beras Menjelang Puasa Diprediksi Naik
Selasa, 07 Juni 2011 04:26
AddThis Social Bookmark Button

Bengkulu, 7/6 (SIGAP) - Harga beras pada tingkat pedagang pengecer di Bengkulu, menjelang bulan puasa akhir Juli 2011, diprediksi naik karena stok pada tingkat pedagang akan berkurang, sedangkan musim panen belum tiba.

"Kami khawatirkan permintaan beras pada bulan puasa menjelang lebaran cukup tinggi, akibat stok pada tingkat petani kosong dan mengharapkan pasokan beras dari luar Bengkulu," kata Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan perdagangan Kota Bengkulu Raman, Senin (6/6).

Dirinya menjelaskan, untuk saat ini harga beras masih stabil meskipun pekan lalu terjadi naik pada harga beras lokal yaitu dari Rp6.300 menjadi Rp6.500 perkilogram.

Untuk beras pasokan dari luar Bengkulu seperti beras kualitas medium dan jenis super tetap dijual seperti biasa, misalnya beras medium dijual Rp6.200, beras jenis paten dijual pedagang Rp8.750 perkilogram, rojo lele Rp6.250 dan merk manggis Rp8.250 perkiologram.

Sementara harga gabah kering giling naik dari Rp2.800 menjadi Rp3.000 per kilogram gabah kering giling (GKG), katanya.

Humas Bulog Devisi Regional Bengkulu David Susanto mengatakan, beras produk lokal sebagian besar cukup untuk konsumsi petani itu sendiri itupun hanya beberapa bulan ke depan dan diperkirakan tidak sampai pada panen mendatang.

Produk beras lokal itu, sulit untuk memenuhi permintaan pasar di daerah ini karena jumlahnya relatif sedikit, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan di daerah ini tetap memasok beras dari provinsi tetangga.

"Kami belum lama ini berkeliling provinsi mencari beras pengadaan lokal, terutama beberapa titik sentra beras di daerah ini antara lain Lebong, Mukomuko, Bengkulu Utara dan Kabupaten Bengkulu Selatan hasilnya sangat nihil," ujarnya.

Para petani rata-rata baru mampu menanam dua kali dalam setahun itupun terbatas beberapa daerah irigasi teknis saja, sedangkan lainnya sebagian besar menanam padi satu kali dalam setahun.

Dengan jarak tanam cukup jauh dan produksi sangat terbatas, maka beras Bengkulu belum mampu memenuhi permintaan konsumn lokal di pasaran, sedangkan para pedagang umumnya tetap memasok beras dari luar Bengkulu.

Padahal Bulog Bengkulu setiap tahun menyediakan anggaran untuk pengadaan lokal, untuk memenuhinya terpkasa membeli dari petani di wilayah Sumatra Selatan dan Lampung sebagian ada dari wilayah Sumatra Barat, ujarnya.

Seorang pedagang beras di kawasan Pasar Panorama, Kota Bengkulu Rusli mengatakan, beras beredar di Kota Bengkulu sebagian besar dari luar daerah itu dan bukan produksi lokal.

Beras lokal hanya dipasarkan oleh pedagang kecil tertentu, akibat produksinya belum maksimal, sehingga beras pada tingkat peagang di daerah ini didominasi beras dari Lampung dan Sumatra Selatan.

"Kami hingga saat ini memasok beras dari Lampung dan beberapa daerah wilayah sumsel dan bahkan didatangkan dari Sumatra Barat," ujarnya.

Dirinya mengatakan, secara umum produksi beras lokal sebagian besar mutunya kalah bersaing dengan beras didatangkan dari provinsi tetangga seperti dari Lampung, Palembang dan Sumatra Barat.

Meskipun ada beras lokal jenis super namun jumlahnya tebatas dan diminati warga tertentu seperti sudah menjadi perantau di Jakarta, setiap musim panen rindu untuk memakan beras asal Bengkulu.

Namun untuk konsumsi kalangan menengah ke atas di Kota Bengkulu tetap membeli beras kualitas super dari luar Bengkulu antara lain seprti jenis paten dan rojo lele, sedangkan harganya tetap di atas Rp9.000 perkilogram.

Untuk beras jenis medium atau Ir 64 harganya sama dengan produk beras lokal yaitu Rp6.400 perkilogram, sebagian besar dikonsumsi masyarakat kalangan menengah ke bawah, katanya.

Berbeda dengan beras lokal mutunya sekitar 90 persen terdiri patah, sehingga bentuknya tidak sedap dipandang, meskipun rasanya kadang kala sama dengan beras dari luar daerah ini.

Beras Bengkulu sampai saat ini belum ada permintaan dalam jumlah besar dari pedagang besar di luar daerah, meskipun produk beras Talang Benih, Rejang Lebong dan beras dari Seginim dan Padang Guci daerah ini cukup terkenal.

Meskipun ada kualitasnya sama dengan beras jenis super dari Lampung, namun jumlahnya terbatas, sehingga untuk memasok daerah lain belum cukup dan hanya mampu memenuhi kebutuhan lokal.

Bila musim panen tiba biasanya beras Bengkulu hanya dijadikan oleh-oleh pada keluarga tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, namun untuk memasok suatu daerah belum mampu, ujarnya. (laporan budi/ant)

 

Arsip Berita