Kamis, 24 Mei 2012
Petani Perlu Didorong Memproduksi Benih Unggul
Sabtu, 19 Juni 2010 01:46
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 19/6 (Sigap) - Petani di Indonesia perlu didorong untuk memproduksi benih unggul secara mandiri, sehingga tidak tergantung pada produsen benih, kata pakar pertanian dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Sarjiyah MS.

"Benih unggul tidak harus berupa benih bersertifikat yang diperoleh dari produsen benih, tetapi juga dapat diproduksi sendiri asalkan dengan metode yang benar," katanya, di Yogyakarta, Jumat.

Dikatakannya, hal itu perlu dilakukan karena selama ini petani yang menggunakan benih unggul jumlahnya terbatas dengan mengandalkan bantuan dari pemerintah. Jika tidak ada bantuan mereka lebih banyak menggunakan gabah hasil panen yang bermutu rendah.

"Padahal, benih merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat hasil tanaman. Meskipun tersedia sarana produksi lain yang mencukupi, jika menggunakan benih bermutu rendah hasilnya juga akan rendah," katanya.

Ia mengatakan untuk memproduksi benih unggul harus memperhatikan beberapa aspek budi daya mulai dari penyiapan lahan sampai panen, antara lain pengaturan jarak tanam, pemupukan, pengairan, perlindungan terhadap organisme pengganggu tanaman, dan pemanenan.

"Untuk menghasilkan benih unggul, budi daya tanaman diperlakukan berbeda dengan untuk produksi. Jarak tanam dibuat lebih lebar agar antartanaman tidak terjadi kompetisi, pemupukan harus dilakukan dengan tepat agar pertumbuhan tanaman optimal," katanya.

Selain itu, juga perlu dilakukan "roguing", yakni pembuangan tanaman tipe simpang atau tanaman yang tidak dikehendaki seperti gulma, kultivar lain akibat terjadinya segregasi, dan mutasi.

Menurut Sarjiyah, pemanenan juga harus dilakukan dengan baik, dianjurkan secara manual (dengan tangan) agar tidak terjadi kerusakan mekanis yang dapat menurunkan kualitas benih.

Pemanenan sebaiknya dilakukan pada tingkat masak fisiologis yang ditandai dengan terjadinya kehilangan air yang cukup besar, terjadi perubahan warna daun dari hijau menjadi kekuningan, dan terbentuk lapisan pemisah pada buah sehingga buah mudah lepas dari induknya.

"Untuk mendapatkan benih unggul dan tahan disimpan, biji yang sudah dipanen perlu dikeringkan sampai dengan kadar air tertentu, kemudian dilakukan pembersihan dan pemilahan," katanya.

Dikatakan Sarjiyah,keuntungan penggunaan benih unggul buatan sendiri adalah dapat dilakukan secara mandiri dan kualitasnya tidak kalah dibanding dengan benih dari produsen benih.

"Dengan demikian, petani dapat menghemat biaya produksi untuk membeli benih, bahkan jika sudah mapan dapat diajukan untuk mendapat sertifikasi dari pihak yang berwenang," katanya. (laporan wa prasetia/ ant)

 

 

Arsip Berita