Kamis, 24 Mei 2012
Pemkab Pandeglang 2011-2016 Programkan Pembangunan Pertanian Terpadu
Senin, 06 Juni 2011 00:09
AddThis Social Bookmark Button

Pandeglang, 6/6 (SIGAP) - Pemerintah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten dalam lima tahun ke depan mempogramkan untuk membangun pertanian secara terpadu.

"Pembangunan pertanian secara terpadu ini, merupakan program yang akan kita jalankan dalam periode 2011-2016," kata Bupati Pandeglang Erwan Kurtubi di Pandeglang, Minggu (5/6).

Pembangunan pertanian terpadu ini, kata Erwan, diarahkan pada peningkatan produk dan pemasaran hasil pertanian dan perikanan unggulan diddukung sistem dan jaringanagribisnis terpadu dan rintisan agroindustri.

Berbagai program akan dilaksanakan untuk wujudkan hal itu, di antaranya peningkatan produk pertanian dan perikanan unggulan, perluasan jaringan bisnis dan pasar produk pertanian dan perikanan.

Kemudian, peningkatan peran dan fungsi kelembagaan agribusnis baik hulu maupun hilir, pengembangan industri kecil di bidang agribisnis, peningkatan produksi, produktivitas dan mutu produk tanaman holtikultura dan perkebunan secara berkelanjutan.

"Pembangunan pertanian terpadu tersebut, merupakan bagian untuk mewujudkan Pandeglang sebagai daerah mandiri dan berkembang di bidang agribisnis," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Pandeglang Cahyan Sofyadi menjelaskan, untuk sektor pertanian lebih difokuskan pada pengembangan padi jenis non-hibrida.

Mengenai target produksi gabah kering giling (GKG) pada 2011, menurut Cahyan, sebanyak 689.506 ton, dan pada triwulan I telah terealisasi 40 persen.

Sedangkan produksi GKG 2010, kata Cahyan, mengalami surplus lima persen, atau mencapai 105 persen dari target yang ditetapkan 656.672 ton.

Sementara itu, Kepala Seksi Pengembangan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang Wahyu Kusmayadi menjelaskan, ada empat jenis ikan air yang menjadi unggulan dan menjadi fokus pengembangan, yakni mas, nila, gurame dan lele.

Mengenai produksi ikan air tawar, menurut Kusmayadi, masih relatif rendah, atau sekitar 30-40 persen dari kebutuan masyarakat, sehingga sisa kekurangannya masih didatangkan dari luar daerah. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita