Kamis, 24 Mei 2012
PVMBG Minta Masyarakat Tetap Waspadai Kawah Timbang
Minggu, 05 Juni 2011 09:35
AddThis Social Bookmark Button

Banjarnegara, 5/6 (SIGAP) - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat tetap mewaspadai Kawah Timbang, Gunung Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, meskipun aktivitas kegempaannya cenderung menurun.

"Kita harus tetap waspada. Jangan-jangan Dieng itu sedang menghimpun kekuatannya," kata Kepala PVMBG, Surono, di Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Minggu (5/6).

Menurut Surono, gempa hembusan pada hari Sabtu (4/6) merupakan yang terbanyak sepanjang krisis Dieng ini terjadi karena mencapai 18 kali.

Akan tetapi dalam pengamatan pada Minggu dinihari, pukul 00.00-06.00 WIB, kata Surono, aktivitas kegempaan relatif berkurang.

Oleh karena itu, lanjutnya, PVMBG tidak serta merta menurunkan status Kawah Timbang ketika parameternya terlihat menurun.

"Kita melihat ke depan, kita sudah memiliki banyak peralatan, empat seismograf telah dipasang, berarti sudah ada lima (seismograf). Kita lihat kegempaannya seperti apa, kita lihat fluktuasi gasnya seperti apa," katanya.

Menurutnya, fluktuasi gas beracun (CO2) yang dikeluarkan Kawah Timbang masih berada pada tingkat konsentrasi yang berbahaya.

"Kemarin (Sabtu 4/6) tercatat 1,18 persen volume, hari ini (5/6) sebesar 1,54 persen volume. 1,54 persen volume itu berbahaya, standar internasional 1,5 persen volume sudah harus dievakuasi," jelas Surono.

Surono mengakui, arah luncuran gas CO2 semakin melebar ke arah selatan karena gas ini berat sehingga mengikuti lereng dan lembah.

"Saya berharap tidak semakin parah, tidak semakin mendekat ke jalan karena lembahnya ke jalan dan Kali Sat. Saya takutnya (luncuran gas) memotong jalur utama Wonosobo-Batur," katanya.

Kalau hal itu terjadi, kata Surono, berarti harus ada penutupan jalan sehingga akan mengganggu sosio-ekonomi masyarakat.

Disinggung mengenai adanya anggapan masyarakat jika peningkatan aktivitas Kawah Timbang akibat ulah manusia, Surono mengatakan, secara langsung tidak mengakibatkan peningkatan aktivitas.

"Tetapi manusia cenderung meninggikan risiko bencana karena terlalu dekat dengan kawah," katanya.

Surono mengatakan, sangat kecil jika longsoran tanah dari lahan kentang dijadikan parameter penyebab peningkatan aktivitas Kawah Timbang.

Dalam hal ini, kata Surono, sangat kecil kemungkinan longsoran tanah tersebut menutupi lubang kawah sehingga akumulasi tekanan jadi meningkat karena pusatnya berada pada kedalaman lima kilometer.

Sebelumnya, warga Dusun Simbar, Desa Sumberejo, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, meyakini peningkatan aktivitas Kawah Timbang, Gunung Dieng, akibat ulah manusia.

"Ini semua karena ulah manusia. Lubang kawah yang biasa digunakan sebagai tempat keluarnya gas, tertutup longsoran tanah dari ladang kentang milik orang kaya yang berada di bagian atas Kawah Timbang," kata warga Dusun Simbar, Suhem (60), di Pos Pengungsian SMA Negeri 1 Batur, Banjarnegara, Sabtu (4/6).

Menurutnya, warga Simbar sebenarnya telah berupaya mengingatkan agar pekerja ladang tersebut tidak membuat saluran air yang mengarah ke Kawah Timbang.

Akan tetapi, kata Suhem, para pekerja lahan kentang tersebut tidak mengindahkan peringatan warga.

"Akibatnya di saat musim hujan kemarin, longsoran tanah dari ladang tersebut menutup lubang gas di Kawah Timbang. Mungkin karena sudah terlalu lama tertutup, tekanan gas dari dalam sangat kuat sehingga mengakibatkan gempa dan aktivitas Kawah Timbang pun meningkat," katanya. (laporan sofyan/ant)

 

Arsip Berita