Kamis, 24 Mei 2012
Warga Desa Renah Kayu Embu Pilih Kayu Bakar Daripada Gas
Sabtu, 04 Juni 2011 04:54
AddThis Social Bookmark Button

Jambi, 4/6 (SIGAP) - Warga Desa Renah Kayu Embun (RKE) Kecamatan Kumun-Debai, Kota Sungaipenuh, Jambi, hingga kini lebih memilih bertahan menggunakan kayu bakar daripada kompor gas untuk memasak.

''Warga Desa RKE ini memang sedari dulu mempergunakan kayu bakar dari batang kayu manis untuk memasak, karenanya ketika mendapat program bantuan tabung dan kompor gas dari pemerintah mereka terima saja, tapi sama sekali tidak mereka pergunakan,'' kata Kades RKE, Janbida, di Sungaipenuh, Jumat (4/6).

Karena itulah, katanya, program konversi gas tersebut sangat tidak efektif bagi Desa RKE, mengingat 300 KK warga desa yang merupakan kawasan paling terpencil dari pusat keramaian Kota Sungaipenuh tersebut, selama ini adalah masyarakat yang hidup dengan pola pertanian tradisional yang amat sederhana, termasuk dalam pola dan gaya hidup mereka sehari-hari.

Dikatakan Janbida, desanya tidak memiliki penerangan listrik, tidak memiliki peralatan elektronik, tidak ada kendaraan modern bermesin selain 'Usoh' (pedati tanpa roda alat angkut pertanian tradisional).

Di sana juga tidak ada sekolah, dan tidak memiliki perkampungan seperti desa lainnya, rumah-rumah penduduknya hanyalah 'mahung-mahunG' atau pondok-pondok 'pelupuh' (samakan bambu) sangat serderhana dalam ladang-ladang di lereng atau puncak bukit.

''Tidak cocok masyarakat petani sederhana seperti kami menggunakan gas hanya untuk memasak, apalagi di desa ini selalu banyak tunggul-tunggul kayu manis bekas panen warga untuk dipergunakan jadi kayu bakar, dan itu yang sedari dulu kami lakukan,'' kata Janbida.

Diungkapkan Janbida, masyarakat desanya memang selalu bertindak defensif memproteksi dirinya, termasuk dalam hal konversi gas, walaupun pemerintah sudah menegaskan mereka sudah diasuransikan jika terjadi kecelakaan akibat kesalahan penggunaan.

''Meskipun sudah ada asuransi sekalipun, mereka tetap tidak mau kecelakaan itu terjadi pada diri mereka. Warga tetap tidak mau sampai habis harta benda atau tubuh sampai terluka bakar, apalagi sampai kehilangan nyawa hanya karena tabung gas untuk memasak,'' ujarnya.

Apalagi, katanya, risiko kebakaran akan sangat besar jika terjadi kecelakaan ledakan bagi seluruh lingkungan mereka, tidak saja rumah yang gampang terbakar, tapi seluruh kawasan perladangan adalah lahan yang gampang tersulut api.

Karena itu warga RKE lebih memilih bertahan menggunakaan kayu bakar yang sudah sangat mereka kuasai dan pahami daripada beralih mepergunakan gas, hanya karena gengsi ingin ikut gaya hidup hidup modern.

Lagi pula, katanya, memasak dengan kayu bakar seakan telah menyatu betul dengan kebiasaan masyarakat setempat, pasalnya mereka sangat menikmati cita rasa masakan yang bercampur asap kayu bakar dari kayu manis yang mereka pergunakan.

''Lidah mereka tak bisa menikmati masakan jika memasaknya dengan menggunkan kompor, apalagi kompor gas, hidung mereka tak bisa tidak mencium bau asap kayu bakar, mulut mereka tidak bisa untuk tidak meniup 'siung' (corong bambu peniup api), itu suatu keunikan mayarakat desa ini,'' katanya. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita