Kamis, 24 Mei 2012
Pemkab Barito Utara Bentuk Komisi Penanggulangan AIDS
Kamis, 02 Juni 2011 00:23
AddThis Social Bookmark Button

Muara Teweh, 2/6 (SIGAP) - Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, membentuk Komisi Penanggulangan AIDS guna meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS/HIV di daerah setempat.

Kepala Dinas Kesehatan Barito Utara, Subagio di Muara Teweh, Rabu (1/6) mengatakan, saat ini naskah surat keputusan (SK) Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) daerah sedang diproses tinggal ditandatangani Bupati Barito Utara.

Menurut Subagio, KPA di daerah ini mendukung program KPA nasional yang anggotanya melibatkan seluruh komponen terkait yang diketuai oleh Bupati Barito Utara, Achmad Yuliansyah.

Apalagi, kata Subagio, penderita HIV/AIDS yang dilakukan sero survei pengambilan sampel darah di lokalisasi pekerja seks komersial (PSK) di Muara Teweh setiap tahun cenderung meningkat.

"Kami targetkan KPA ini efektif bekerja tahun 2012 mendatang, mengingat dana operasional berasal dari APBD kabupaten," katanya didampingi Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan, Cornelis.

Subagio menjelaskan, tugas KPA tersebut diantaranya selain melakukan sero survei, juga membentuk klinik HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muara Teweh dan penyuluhan ke sekolah-sekolah, kelompok masyarakat beresiko tinggi terhadap penularan kedua penyakit yang mematikan itu.

Pada akhir Mei 2011 pihaknya telah mengambil sampel darah sebanyak 111 orang PSK dilokalisasi yang dikenal dengan nama "lembah durian" terletak di kilometer 3,5 Jalan Negara Muara Teweh - Puruk Cahu guna pendeteksian ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS).

Selama ini pengambilan sampel daerah tidak untuk mengetahui siapa yang terdeteksi ODHA, tapi ingin tahu apakah ada yang tertular atau tidak, karena KPA belum dibentuk di kabupaten pedalaman Kalteng ini.

"Melalui KPA ini para penderita AIDS/HIV di daerah ini dapat diawasi dan mengurangi laju penularan," kata Subagio.

Subagio mengatakan, penderita HIV/AIDS di lokalisasi terbesar di kabupaten pedalaman Sungai Barito itu setiap tahun cenderung meningkat. Pemeriksaan terhadap mereka sejak 2004 hingga saat ini.

Pada 2010, Dinkes Barito Utara melakukan pengambilan sampel darah dari 102 PSK di lokalisasi "lembah durian" itu, sedangkan teridentifikasi sepuluh orang sudah terinfeksi AIDS/HIV.

"Kami kesulitan mengetahui orang yang tertular HIV, karena wanita penghuni lokalisasi ini silih berganti baik masuk maupun pindah ke tempat lain dan secara teori kalau sudah ada penderita di tempat itu maka akan menular di masyarakat lainnya," katanya.

Sebelumnya Ketua RT 31 Kelurahan Lanjas, Abdul Sani, mengatakan, pemeriksaan sampel darah hendaknya ditindaklanjuti instansi yang berwenang kalau ada PSK yang terdeteksi AIDS.

"Karena selama ini dari hasil pemeriksaan tahun-tahun sebelumnya hanya diketahui jumlah PSK yang positif AIDS, namun tidak diketahui orangnya," kata Sani yang tinggal di kawasan lokalisasi tersebut.

Dirinya mengatakan, jika tidak diketahui penderitanya membuat masyarakat setempat dan pengunjung lokalisasi resah, karena takut tertular.

Bahkan, katanya, biasanya setelah terekspose di media, pengunjung lokalisasi itu menurun.

Pihaknya sudah berupaya meminta penjelasan kepada Dinkes setempat untuk mengklarifikasi siapa terinfeksi HIV guna diambil tindakan lebih lanjut, namun tidak membuahkan hasil.

"Namun dengan alasan kode etik mereka tidak memberikan informasi," katanya.

Padahal, katanya, upaya mengetahui hal itu bukan untuk mencemarkan atau menyudutkan nama orang tersebut, namun demi menenangkan warga setempat.

Pihaknya juga menjamin kerahasiaan PSK yang tertular HIV/AIDS itu, sehingga tidak menulari pengunjung atau penghuni lokalisasi di kabupaten pedalaman Kalteng itu.

"Kalau pihak terkait bisa menyebutkan orangnya, kami bersama Dinas Sosial akan memulangkan atau merehabilitasi yang bersangkutan dengan cara diam-diam tanpa diketahui orang lain," katanya. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita