Kamis, 24 Mei 2012
BPS: Ekspor Nonmigas April 2011 Turun 2,82 Persen
Kamis, 02 Juni 2011 00:15
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 2/6 (SIGAP) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas selama bulan April 2011 turun 2,82 persen dari bulan sebelumnya menjadi 12,93 miliar dolar AS.

Deputi Kepala BPS Bidang Statistik, Distribusi dan Jasa, Djamal, saat menyampaikan berita resmi statistik di Jakarta, Rabu (1/6) menjelaskan, penurunan ekspor nonmigas terbesar terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam, yakni senilai 412,1 juta dolar AS. Komoditas lain yang ekspornya juga turun adalah mesin dan peralatan listrik, tembaga, dan bahan bakar mineral.

Sedang komoditas yang nilai ekspornya meningkat bermakna selama bulan keempat 2011, menurut dia, meliputi minyak dan lemak nabati, bahan kimia organik, karet, dan barang karet serta kertas.

Kendati sedikit menurun dari bulan sebelumnya, Djamal menjelaskan, nilai ekspor nonmigas pada April 2011 masih lebih tinggi 31,52 persen jika dibandingkan dengan kurun yang sama tahun 2010.

Menurut data BPS, ekspor nonmigas paling besar selama April 2011 ditujukan ke China dengan nilai 1,57 miliar dolar AS, disusul Jepang dengan nilai 1,46 miliar dolar, dan AS sebesar 1,31 miliar dolar.

"Kontribusi ketiganya mencapai 33,56 persen dari seluruh ekspor," kata Djamal.

Sementara sumbangan ekspor ke 27 negara yang tergabung dalam Uni Eropa selama bulan keempat tahun ini mencapai 1,69 miliar dolar AS (13,31 persen) dan ke negara-negara ASEAN sebesar 2,47 miliar dolar AS (22,24 persen).

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan, secara kumulatif nilai ekspor nonmigas selama Januari-April 2011 meningkat 29,34 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 50,03 miliar dolar.

Nilai total ekspor selama kurun waktu itu juga tercatat masih tinggi, mencapai 61,91 miliar dolar atau meningkat 30,14 persen dibanding Januari-April 2010.

Dalam empat bulan pertama tahun 2011, BPS mencatat, ekspor paling banyak ditujukan ke Jepang (11,65 persen), diikuti AS (10,47 persen), dan China (10,39 persen). (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita