Kamis, 24 Mei 2012
Deflasi Di Sumut Capai 0,23 Persen
Kamis, 02 Juni 2011 00:14
AddThis Social Bookmark Button

Medan, 2/6 (SIGAP) - Sumatera Utara terus mengalami deflasi dimana pada Mei deflasi mencapai 0,23 persen dengan pemicu utama tetap pada penurunan harga berbagai komoditas.

"Kalau April, deflasi sebesar 0,83 persen, maka di Mei 0,23 persen sebagai dampak menurunnya harga cabai merah, bawang merah, kentang dan ikan," kata Kepala Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Erwin Said, di Medan, Rabu (1/6).

Dengan terjadinya deflasi di Mei, maka di Sumut hanya satu kali terjadi inflasi yakni di Januari sebesar 1,97 persen.

Pada April terjadi deflasi 0,83 persen, Maret 1,03 persen dan Februari 0,47 persen Tetapi meski deflasi, berbeda dengan di April, di Mei , hanya tiga kota indeks harga konsumen (IHK) yang mengalami deflasi masing-masing Medan 0,30 persen, Sibolga 0,56 persen dan Padang Sidempuan 0,06 persen.

Hanya Pematang Siantar yang mengalami inflasi 0,31 persen setelah di April, kota itu mengalami deflasi sebesar 1,47 persen.

Masih terjadinya lagi deflasi di Mei, kata dia, diharapkan inflasi tahun ini di bawah angka tahun lalu yang cukup tinggi atau 8 persen.

Selain harga cabai, kentang, bawang dan ikan, deflasi di Sumut pada Mei lalu juga didorong oleh turunnya harga telepon selular Di Medan, misalnya, kata Kabid Statitistik Distribusi BPS Sumut, Hajizi, harga cabai, bawang dan ikan masing-masing turun 40,21 persen, 6,85 persen dan 4,86 persen -7,56 pesen.

Sementara harga telepon selular turun 6,73 persen.

Akibat penurunan berbagai harga barang itu, Medan, mengalami deflasi sebesar 0,30 persen.

Terjadinya deflasi pada April, menyebabkan laju deflasi Sumut secara kumulatif (Januari-Mei) menjadi 0,62 persen dari Januari-April yang 0,39 persen.

Sementara secara "year on year", deflasi juga tinggal 5,91 persen dari posisi April yang masih 6,45 persen.

"Deflasi memang bagus, tetapi BPS juga sudah ingatkan pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya penurunan harga komoditas yang dihasilkan petani," kata Hajizi.

Pengamat ekonomi Sumut, Jhon Tafbu Ritonga, mengatakan, Sumut kemungkinan akan mengalami inflasi mulai Juni ini karena memasuki tahun ajaran baru, disusul Bulan Ramadhan hingga Idul Fitri.

Deflasi secara terus menerus seperti dewasa ini, kata dia, juga perlu diwaspaai apalagi pemicuya karena harga jual komoditas yang dihasilkan petani yang menurun.

Inflasi memang harus ditekan untuk tidak mengganggu pertumbuhan ekonomi daerah itu, namun jangan sampai merugikan petani, dimana penurunan harga yang terus-terusan terjadi bisa membuat petani kembali tidak berminat bertanam.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) itu juga menilai, terjadinya deflasi di Mei, masih sama dengan bulan-bulan sebelumnya, dimana deflasi bukan disebabkan penurunan harga yang sesungguhnya.

Asumsi itu mengacu, pada fakta dimana nyatanya harga jual dewasa ini masih tetap lebih tinggi dari harga sebelum terjadi kenaikan. (laporan sofyan/ant)

 

Arsip Berita