Kamis, 24 Mei 2012
BMKG Prediksi Hujan Lebat Disertai Petir Terjadi Hingga September
Senin, 30 Mei 2011 04:40
AddThis Social Bookmark Button

Bogor, 30/5 (SIGAP) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Dragama Bogor Jawa Barat memprediksi hujan lebat disertai angin kencang dan petir berpotensi terjadi hingga 4 bulan ke depan atau sampai awal September 2011.

Koordinator Forecast Stasiun Klimatologi kelas I Dramaga Bogor, RT Agus Heru Rianta, di Bogor, Senin (30/5) mengatakan, masyarakat diimbau untuk mewaspadai kondisi ini, untuk bulan awal September 2011 dan seterusnya potensi adanya puting beliung dan tanah longsor akan mulai timbul lagi.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, potensi hujan disertai angin kencang disebabkan oleh pengaruh La Nina. Pengaruh tersebut menyebabkan cuaca yang tidak menentu.

Pengaruh La Nina tidak serta merta berpengaruh terhadap curah hujan di Jawa Barat khususnya Bogor masih dipengaruhi oleh suhu permukaan laut di sekitar perairan Jawa Barat dan juga posisi ITCZ .

Menurut Agus, ITCZ adalah garis atau zona yang berkaitan dengan pusat sirkulasi siklonik yang memiliki tekanan udara yang sangat rendah dari daerah sekitarnya dan berada di antara dua cekungan equatorial.

"ITCZ merupakan daerah pertemuan angin yang membentuk awan penghasil hujan yang berada di sekitar wilayah itu sehingga hujan turun cukup deras secara berkesinambungan," katanya.

Pola angin rata-rata bulan Februari terlihat pertemuan angin memanjang dari perairan Jawa Barat sampai sebelah utara Australia sehingga daerah tersebut merupakan pusat pertumbuhan awan, sedangkan pola angin bulan Februari 2011 daerah pertemuan angin bergeser kearah timur yaitu dari perairan Jawa Timur hingga utara Australia sehinga daerah pertumbuhan awan berada disekitar daerah tersebut.

"Sifat curah hujan bulan Januari ? Maret 2011 terlihat sifat curah hujan di sebagian besar Bogor dibawah normalnya," katanya.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, memasuki 2011 wilayah Indonesia diselimuti rasa khawatir dimana pada bulan-bulan Januari, Februari dan Maret adalah puncak curah hujan, padahal sepanjang 2010 curah hujan cukup tinggi sampai ada istilah kemarau basah ini disebabkan pengaruh La Nina dimana daerah Pasifik bagian Tengah mengalami anomaly suhu lebih dingin sehingga terjadi pergerakan masa uap air dari Pasifik ke perairan Indonesia.

Memasuki Awal tahun baru La Nina masih moderate sehingga pengaruhnya masih cukup signifikan. Berbagai persiapan terutama menghadapi banjir khususnya DKI yaitu banjir kiriman dari Bogor telah dilakukan dengan berbagai cara dari mengeruk sungai, pelatihan kepada warga di daerah rawan banjir.

"Tetapi yang terjadi justru sebaliknya bulan Januari ? Maret sifat curah hujan di Bogor sebagian besar dibawah normal," kata Agus.

Sementara itu, di daerah lain misalnya di Jawa Timur terjadi hujan sangat lebat dan banjir, bahkan daerah Nusa Tenggara yang merupakan daerah kering terjadi banjir.

"Dari kejadian ini timbul pertanyaan mengapa di Jawa Barat khususnya Bogor justru terjadi sebaliknya seakan-akan terjadi pergeseran wilayah hujan kearah timur," katanya.

Menurut Agus, ha l ini karena Anomali suhu permukaan laut di Pasifik Tengah berkisar -1.50C artinya La Nina moderate, Dipole Mode Indek kondisi netral artinya tidak menggangu kondisi cuaca di Indonesia.

Khususnya di perairan sekitar Jawa mengalami pendinginan sekitar 0.50 sehingga jumlah uap air di atmosfir berkurang sehingga menggangu pembentukan awan-awan hujan.

"Ini semua karena pengaruh La Nina, oleh karena itu, masyarakat harus mewaspadai kondisi seperti ini," katanya.

Sebelumnya, selama tiga hari berturut-turut wilayah Bogor dilanda hujan disertai angin kencang, puluhan pohon tumbang, dan beberapa kawasan terjadi longsor dan banjir, meski tidak terdapat korban jiwa, namun kondisi tersebut perlu di waspadai. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita