Kamis, 24 Mei 2012
Sebanyak 15 Persen Gunung Api Dunia Ada Di Indonesia
Jumat, 27 Mei 2011 16:37
AddThis Social Bookmark Button

Medan, 27/5 (SIGAP) - Kasubdit Perencanaan Organisasi Kesehatan Masyarakat Badan Penanggulangan Bencana Indonesia, Berton SP Panjaitan, di Medan, Jumat (27/5) mengatakan, sedikitnya 15 persen dari 500 gunung-gunung api di dunia, baik masih aktif atau tidak berada di Indonesia.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, sebanyak 128 diantaranya dinyatakan aktif dan selebihnya sangat aktif.

Dari 500 gunung api tersebut, 15 persen diantaranya berada di Indonesia. Keadaan ini harus menjadi perhatian yang serius," katanya pada Seminar Nasional "Membangun Daya Bangsa Dalam Penanggulangan Bencana" di Universitas Sumatera Utara (USU), Jumat.

Dirinya mengatakan, jika ditinjau dari potensi bencana, Sumut termasuk daerah yang masuk dalam 10 besar terjadinya bencana dalam rentang satu dekade. Bencana yang terjadi berupa banjir, angin topan, tanah longsor, kebakaran, dan letusan gunung api.

"Bencana yang sering terjadi adalah banjir dan yang paling besar tingkat kerugiannya," katanya.

Menurutnya, hingga kini masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta masih menganggap penanggulangan bencana belum menjadi investasi jangka panjang. Sehingga seringkali penanggulangan bencana dilakukan hanya dengan bantuan darurat.

Seandainya, lanjutnya, jika saja berbagai pihak menginvestasikan 1 dolar saja untuk penanggulangan bencana, dalam waktu 15 tahun kemudian investasi tersebut dapat menjadi modal untuk penanggulangan bencana.

Seharusnya, ada tiga pilar atau komponen pelaku penanggulangan bencana berdasar Undang-undang 24/2007 yakni pemerintah, masyarakat sipil dan lembaga usaha atau pihak swasta.

"Sosialisasi penanggulangan bencana juga harus dilakukan ke masyarakat agar ketika terjadi bencana masyarakat tidak panik dan bisa menanganinya sejak dini," katanya.

Ketua Peneliti gempa LIPI, Danny Hilman mengatakan, Sumut memiliki urutan potensi bencana tertinggi setelah wilayah Timur dan Jawa, sementara jika dilihat dari potensi kerugian akan menduduki peringkat pertama.

"Hal ini tentunya tidak terlepas dari jumlah populasi di Sumut yang sudah termasuk cukup padat," katanya.

Salah satu yang perlu diwaspadai adalah letusan magma yang terdapat di bawah air Danau Toba, karena pada 70.000 tahun lalu danau tersebut terbentuk akibat letusan gunung yang kemudian membentuk kawah.

"Namun kapan waktunya belum dapat diprediksi, yang jelas bukan dalam waktu dekat, untuk itu para peneliti perlu mengkaji potensi meletusnya," katanya. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita