Kamis, 24 Mei 2012
Perikan Magelang Lakukan Penyemprotan Desinfektan Di Daerah Perbatasan
Jumat, 27 Mei 2011 02:11
AddThis Social Bookmark Button

Magelang, 27/5 (SIGAP) - Dinas Peternakan dan Perikanan (Peterikan) Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Jateng) terus menggiatkan penyemprotan desinfektan di daerah perbatasan untuk mengantisipasi penyakit menular pada binatang.

Kepala Dinas Peterikan Kabupaten Magelang, Tri Agung Sucahyo di Magelang, Kamis (26/5) mengatakan, hingga sekarang belum ditemukan penyakit menular pada hewan di wilayah Kabupaten Magelang, namun Dinas Peterikan terus melakukan upaya antisipasi.

Tri Agung mengatakan, tidak hanya penyakit antraks, antisipasi juga dilakukan terhadap empat penyakit menular lainnya, yakni brucellosis (keguguran), hog kolera pada babi, rabies pada anjing dan avian influenza (AI) pada unggas.

Selain penyemprotan desinfektan, katanya, dilakukan pemantauan lalu lintas hewan ternak dari luar daerah serta pengawasan terhadap beberapa rumah potong hewan (RPH) dan tempat potong hewan (TPH) serta tindakan lain sesuai pedoman teknis yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Peternakan.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner, Sudirman mengatakan, saat ini tersedia desinfektan 407 liter. Sebelumnya Dinas Peterikan telah melakukan penyemprotan dilima desa di Kecamatan Ngablak yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali yang notabene daerah endemis antraks.

Lima desa tersebut, yakni Desa Pagergunung, Girirejo, Pandean, Jogonayan, dan Desa Ngablak.

"Kami juga akan melakukan penyemprotan di beberapa desa di Kecamatan Dukun, Srumbung, Ngluwar, Sawangan dan Grabag. Penyemprotan kami utama di daerah yang berbatasan dengan daerah endemis antraks," katanya.

Menurutnya, penyakit antraks menyerang hewan pemamah biak terutama sapi, kerbau, rusa, kuda, kambing dan domba.

Penularannya dapat melalui kontak langsung antara hewan, melalui tanah karena spora antraks bisa bertahan dalam tanah sekitar 10 tahun, dan melalui jaringan hewan penderita yang dikeluarkan melalui sekresi dan eskresi menjelang kematian.

"Jika terdapat hewan mati karena antraks harus langsung dikubur dan dibakar dalam tanah. Jangan dikonsumsi karena bisa menular ke manusia ditandai dengan gatal-gatal di kulit hingga melepuh dan mengeluarkan darah berwarna merah kehitaman," katanya. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita