Kamis, 24 Mei 2012
Bulog: Anomali Cuaca Picu Peningkatan Populasi Kutu Beras
Rabu, 25 Mei 2011 03:20
AddThis Social Bookmark Button

Semarang, 25/5 (SIGAP) - Kepala Perum Bulog Divisi Regional Jawa Tengah, Hari Susetyo mengatakan, anomali cuaca yang terjadi beberapa waktu terakhir menyebabkan populasi hama gudang yang menyerang beras meningkat signifikan.

"Populasi hama gudang, seperti kutu besar meningkat luar biasa," kata Hari di Semarang, Selasa (24/5).

Menurutnya, kondisi gudang yang lembab memicu populasi kutu beras meningkat cukup cepat.

Oleh karena itu, lanjutnya, perlu dilakukan sortasi terhadap beras yang akan didistribusikan.

Dirinya menjelaskan, Bulog juga telah melakukan fumigasi secara berkala terhadap beras yang disimpan di gudang untuk membunuh kutu yang tercampur beras.

Dirinya menuturkan, perlu kerja keras untuk menyortir beras dari kutu, sebelum didistribusikan.

Selain sortasi beras, dirinya juga mengimbau kepada petani agar menyeleksi beras yang akan dijual ke Bulog.

Hal tersebut, lanjut Hari, bertujuan untuk memudahkan proses seleksi beras yang akan didistribusikan ke masyarakat.

Sebelumnya, ubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo meminta Perum Bulog di provinsi ini untuk bekerja lebih keras dalam menyajikan beras dengan kualitas baik untuk keluarga miskin.

"Selama ini, masyarakat mengeluhkan raskin yang tercampur dengan kutu mati," kata gubernur.

Menurut Hari, anomali cuaca yang terjadi beberapa waktu terakhir ini menyebabkan kualitas beras yang diproduksi petani turun.

Hari menjelaskan, kandungan air yang terlalu tinggi pada beras menyebabkan kutu beras berkembang biang cukup cepat akibat kondisi yang lembab.

"Beras menjadi berkutu, karena kondisi lembab. Oleh karena itu perlu difumigasi," katanya.

Dirinya menuturkan, kutu beras mati setelah beberapa hari proses fumigasi. Akan tetapi kutu yang mati ini sering kali tercampur dalam raskin yang telah dikemas dan siap didistribusikan.

Dirinya meminta Perum Bulog bekerja dua kali untuk membersihkan raskin dari campuran kutu yang mati usai proses fumigasi. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita