Kamis, 24 Mei 2012
Tambak Garam Di Indramayu Rusak Para Akibat Abrasi
Selasa, 24 Mei 2011 05:39
AddThis Social Bookmark Button

Indramayu, 24/5 (SIGAP) - Ratusan hektare lahan tambak garam milik petani di Desa Eretan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, rusak parah akibat terkikis abrasi hingga kini berubah menjadi lautan.

Tahun 1990 lahan pertanian garam di Desa Eretan cukup produktif, ratusan tenaga kerja bertumpu di sektor penghasil garam daerah pantai Utara Jawa, meski upah mereka sangat terbatas, namun kini kuli garam tersebut hanya tinggal kenangan akibatnya mereka kehilangan pekerjaan dan terpaksa harus mencari penghasilan lain, kata mantan pengusaha garam di Desa Eretan H Munari di Indramayu, Senin (23/5).

Munari yang kini menjadi petani padi itu mengatakan, awal tahun 1990 hingga 1998 lahan pertanian garam masih bisa diandalkan, karena garam yang dihasilkan kualitasnya cukup baik.

"Kualitas garam perairan Pantura cukup baik, selian itu jumlah produksi garam masih bisa diandalkan untuk memasok Kota Bandung, Jakarta, Sumedang, Majalengka, Kuningan, namun kini sudah berakhir karena lahan pertanian garam terkikis abrasi," katanya.

Dirinya menuturkan, perairan Pantura cukup mengkhawatirkan, rumah miliknya dulu berjarak kurang dari satu kilometer hingga ke bibir pantai, namun sekarang air laut sering masuk ke halaman rumah jika sedang pasang atau banjir rob.

"Jarak bibir pantai Eretan hingga ke jalan raya Jakarta - Cirebon tepatnya di Desa Eretan Kandanghaur Indramayu jauh, sekarang sebaliknya air laut semakin dekat dengan bahu jalan utama tersebut," katanya.

Hal serupa diungkapkan oleh Calim, Kepala Desa Soge Kecamatan Kandanghaur, tahun 1990 jarak desa dengan bibir pantai Eretan cukup jauh, dari batas jalan utama Pantura Indramayu Jakarta bisa mencapai kurang dari satu kilometer.

"Jarak pantai utara ke jalan utama Jakarta Indramayu kurang dari satu kilometer, daerah tersebut merupakan lahan pertanian garam produktif, namun kini berubah menjadi laut sehingga masyarakat setempat banyak kehilangan pekerjaan," katanya.

Dirinya menambahkan, pada tahun 1995 gerusan ombak laut utara Jawa mulai terasa, air laut terus mengkikis lahan pertanian, sementara upaya dari masyarakat juga pemerintah sangat kurang sehingga abrasi tidak dapat dihindari. Kini lahan pertanian garam milik petani telah hilang.

"Abrasi di Indramayu memang cukup memprihatinkan jika tidak ada penanganan khusus dari pihak terkait serta peran masyarakat untuk melestarikan alam. Diperkirakan jalan utama Jakarta - Indramayu akan terkikis dan hilang dalam waktu singkat," katanya.

Sementara itu Ahmad Maulana salah seorang warga setempat mengaku, abrasi di Pantura cukup membahayakan jika masyarakat dan pemerintah tidak peduli, buktinya lahan pertanian garam dalam waktu singkat hilang dan berubah menjadi lautan.

"Diperkirakan daratan di sepanjang Kandanghaur Desa Eretan akan hilang terkikis oleh abrasi jika tidak ada pemecah gelombang dan hutan bakau, jarak jaraka laut dulu cukup jauh sekarang pantai sudah berdampingan dengan jalan utama Jakarta - Indramayu," katanya.

Tarno salah serang sopir truk asal Cirebon yang setiap hari melintas di jalur utama Pantura Jakarta - Indramayu menuturkan, sudah 30 tahun menjadi sopir truk tujuan Jakarta - Cirebon, dulu jarak pantai ke jalan raya cukup jauh.

"jarak air laut hingga ke jalan raya diperkirakan kurang dari satu kilometer pada tahun 1990 sampai 1995, namun pelan-pelan air laut kini berdampingan dengan jalan raya," katanya.

Dia menambahkan, lahan pertanian di daerah Eretan Kandanghaur dulu cukup luas, aktivitas masyarakat menekuni garam sangat ramai, setiap sore ratusan kuli terlihat mengemas garam ke dalam karung, namun kini mereka jadi pengangguran. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita