Kamis, 24 Mei 2012
Sejumlah Petani Lebak Kembangkan Jagung Hibrida
Jumat, 20 Mei 2011 04:51
AddThis Social Bookmark Button

Lebak, 20/5 (SIGAP) - Sejumlah petani Kabupaten Lebak, Banten, mengembangkan budidaya tanaman jagung hibrida guna memenuhi kebutuhan pasar lokal yang selama ini masih didatangkan dari luar daerah.

"Sebagian besar petani di sini sudah mengembangkan tanaman jagung hibrida," kata Ahmad (50), seorang anggota Kelompok Tani Mulya Tani Desa Wantisari Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Kamis (20/5).

Ahmad mengatakan, pihaknya terus mendorong masyarakat agar memanfaatkan lahan miliknya untuk ditanam budidaya jagung hibrida jenis benih unggul N 35.

Benih jagung unggul N 35 tersebut sangat cocok dikembangkan di lahan darat di sejumlah desa di Kecamatan Leuwidamar.

Pengembangan tanaman jagung diharapkan ke depan dapat memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun nasional.

"Kami saat ini telah mengembangkan tanaman jagung seluas 20 hektare bantuan pemerintah daerah," katanya.

Menurut dia, prosfek pengembangan usaha budidaya tanaman jagung hibriba sangat bagus karena permintaan untuk pabrik pakan cukup tinggi.

Selain itu dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Saat ini, kebutuhan jagung masih dipasok dari luar daerah.

"Kita optimistis dua tahun mendatang harus mampu menjadi sentra lumbung jagung hibrida," ujarnya.

Surya (45) seorang petani Desa Leuwidamar, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak mengaku dirinya kini mengembangkan tanaman jagung seluas tujuh hektare.

Tanaman jagung tersebut adalah bantuan pemerintah daerah untuk mendorong ketahanan pangan juga peningkatan ekonomi petani.

"Kami sangat tertarik dengan bercocoktanam jagung, selain padi sawah," katanya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Pertanian Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Nana Suryana mengatakan, pihaknya tak henti-hentinya memberikan penyuluhan kepada petani agar beralih pola tanam, seperti jagung karena permintaan pasar dan pabrik pakan cukup tinggi.

"Saya mendorong petani terus mengembangkan budidaya jagung untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga mereka," katanya.

Dia menyebutkan, saat ini, produksi jagung di wilayahnya hanya mampu 2,4 ton per hektare, sehingga ditargetkan tahun 2011 mencapai 4 ton per hektare.

Karena itu, kata dia, peningkatan produksi itu tentu harus dipenuhi sarana dan prasarana pertanian, termasuk penggunaan teknologi.

Sebab petani jagung, ujar dia, hingga kini belum optimal mengggunakan penerapan teknologi yang mengakibatkan produktivitas sangat rendah.

Sedangkan, kata dia, di negara-negara maju, produktivitas jagung delapan ton per hektare.

"Dengan teknologi itu tentu petani bisa meningkatkan produktivitasnya," ujarnya. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita