Kamis, 24 Mei 2012
16 Mahasiswa "University Of Michigan" Lakukan Studi Eerpusi Merapi
Kamis, 19 Mei 2011 16:47
AddThis Social Bookmark Button

Sleman, 19/5 (SIGAP) - Sebanyak 16 mahasiswa "University of Michigan" melakukan kunjungan lapangan di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk melakukan studi dampak sosial dari erupsi Gunung Merapi 2010.

Kepala rombongan mahasiswa Agustin mengatakan, studi lapangan ini merupakan salah satu kegiatan dalam program "Global Interculture Experience for Undergraduate" (GIEU) Program Studi "Asian Languages and Cultures".

"Kunjungan lapangan tahun ini mengambil tema 'Preserving Ecology and Local Culture in a Global World" atau melestarikan ekologi dan budaya lokal yang memfokuskan pada dampak erupsi Gunung Merapi terhadap kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan hidup," katanya.

Bambang Irawan dosen Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo yang mendampingi rombongan ini selama berada di Indonesia mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menginformasikan secara komprehensif mengenai dampak erupsi Gunung Merapi terhadap kehidupan masyarakat Kabupaten Sleman khususnya yang bertempat tinggal di sekitar Gunung Merapi.

"Selain itu juga untuk menginformasikan upaya-upaya yang tengah dilakukan sehingga dapat melibatkan mahasiswa secara langsung dalam upaya-upaya tersebut," katanya.

Kunjungan ini difasilitasi perwakilan dari beberapa satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Kabupaten Sleman yang terkait dengan penanganan bencana erupsi Gunung Merapi yaitu Dinas Pertanian Perikanan Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Pendidikan, Dinas Tenaga Kerja Sosial Transmigrasi dan Dinas Sumber Daya Alam Air, Energi dan Mineral.

Dalam sesi tanya jawab sejumlah pertanyaan diajukan terkait penanggulangan bencana serta upaya-upaya bantuan yang tengah dilakukan Pemkab Sleman kepada masyarakat yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi yang saat ini masih berada di "shelter" atau hunian sementara.

Edi Sumekto Widodo dari Dinas Sumber Daya Alam Air, Energy dan Mineral mengatakan hingga saat ini sejumlah 41 saluran irigasi dari total 93 saluran belum tertangani.

"Ini menyebabkan sejumlah 4.234 hektar lahan pertanian belum dapat berproduksi kembali," katanya.

Kepala Bidang Transmigrasi Wahyudin Santoso menyampaikan bahwa masih banyak warga Merapi yang masih menghuni daerah rawan bahaya.

Usai sesi tanya jawab rombongan kemudian melanjutkan kunjungannya untuk melihat persedian logistik bagi korban erupsi yang tersedia di Dinas Tenaga Kerja dan Sosial (Disnakeersos) dan rombongan juga meninjau hunian sementara di Plosokerep dan Gondanglegi. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita