Rabu, 23 Mei 2012
Jakarta Miliki Potensi Gempa 8,7 SR
Selasa, 17 Mei 2011 13:28
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 17/5 (SIGAP) - Staf Khusus Kepresidenan Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Andi Arief, Selasa (17/5) dalam sebuah wawancara denga stasiun televisi swasta menyatakan, Jakarta memiliki potensi gempa 8,7 skala richter (SR). Menurutnya, potensi gempa, yang sebenarnya bukan isu baru, bersumber dari aktivitas seismik di wilayah Selat Sunda.

Seperti diketahui dalam sepuluh tahun terakhir, Indonesia dilanda oleh berbagai macam bencana alam yang menelan ratusan ribu korban jiwa dan kerugian material yang sangat banyak. Belajar dari berbagai pengalaman yang ada, Indonesia tahun ini akhirnya memiliki pusat riset gempa bumi.

Namun, menurut Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, ternyata Indonesia tertinggal cukup jauh dari Jepang yang sudah memiliki pusat riset ini sejak 86 tahun lalu.

Jepang membuat semacam pusat penelitian gempa pada 1925 setelah pada 1924 terjadi gempa besar di Jepang. Andi menambahkan, Indonesia baru tahun 2011 ini punya pusat riset gempa dan S2 tentang gempa.

Bukan hanya Jepang, beberapa negara lainnya seperti Jerman pun puluhan tahun lebih tanggap dari Indonesia terkait pembangunan pusat riset gempa ini. Akan tetapi, Andi mengaku optimistis, meski tertinggal cukup jauh, Indonesia bisa mengembangkan pusat riset ini dengan baik.

Selain itu, kata Andi, saat ini pusat riset gempa tengah mengumpulkan data mengenai kemungkinan adanya gempa besar yang mungkin melanda ibu kota Jakarta. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan yang ada karena pemerintah tak ingin kembali kecolongan seperti kejadian bencana tsunami di Aceh.

"Jakarta menyimpan potensi, berpusat di Selat Sunda. Pada tahun 1700-an ada pelepasan energi yang sangat besar di sana, sehingga diprediksi akan ada gempa 8,7 skala richter di Jakarta. Saat ini kita sedang buat modellingnya," kata Andi.

Sementara itu, peneliti gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawijaya, mengatakan, potensi itu memang ada. Kekuatannya bisa 8,7 skala Richter. "Tetapi masih perlu dikaji, apakah bisa kurang dari itu atau bahkan lebih," katanya.

Danny mengatakan, potensi kekuatan gempa tersebut bisa diperkirakan dengan melihat dimensi zona subduksi. "Kekuatan gempa itu, kan, berbanding lurus dengan sumber gempa, dimensi zona subduksi. Dari situ kami bisa transfer dengan formula tertentu sehingga mendapatkan potensi gempanya," kata Danny seperti dikutip vivanews.com, Selasa (17/5).

Potensi gempa di Selat Sunda bisa terjadi sebab wilayah itu berada di atas zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia serta zona transisi subduksi miring di barat Sumatera dengan subduksi tegak di selatan Jawa. Gempa bisa dipicu oleh pelepasan energi dari pergerakan lempeng Indo-Australia ke utara dengan kecepatan 6 cm/tahun.

Menurut rekaman selama ini, Danny mengatakan, gempa berkekuatan kecil sebenarnya sering terjadi di wilayah Selat Sunda, tetapi tidak dengan gempa berkekuatan besar. Dirinya tak menampik kemungkinan bahwa gempa besar bisa terjadi akibat aktivitas seismik di wilayah ini meski waktunya tidak bisa diperkirakan.

Danny mengungkapkan, yang perlu dilakukan sekarang adalah keseriusan dalam mendata. Menurutnya, penelitian potensi gempa di Selat Sunda hingga saat ini masih minim. Bahkan, bila dibandingkan dengan penelitian kegempaan di Sumatera, penelitian di Selat Sunda belum ada apa-apanya.

Berkaitan dengan potensi gempa ini, Danny menuturkan bahwa Jakarta perlu melakukan langkah antisipasi. "Ini karena di Jakarta, kan, banyak aset dan teknologi. Misalnya kalau gedung pusat cyber itu rusak, ini akan memengaruhi seluruh Indonesia. Belum lagi, misalnya, sektor perbankan dan lainnya."

Danny menambahkan perlunya persiapan di tingkat masyarakat. "Persiapan di masyarakat juga perlu. Misalnya, di Padang, kan, sudah pernah terjadi, masyarakat diajak siap. Tetapi bagaimana di Jakarta? Ini harus juga dilakukan." Di samping itu, bangunan tahan gempa dan sistem evakuasi di gedung ketika terjadi gempa juga harus diperhatikan.

Sejauh ini catatan gempa besar di Jakarta masih minim. "Ada catatan dalam buku Hanna (Willard A Hanna-Hikayat Jakarta) bahwa gempa besar pernah terjadi tahun 1699 yang mengakibatkan kerusakan parah. Namun, belum diketahui apakah gempa itu bersumber dari wilayah Selat Sunda," kata Danny. (laporan roesman/kompas)

 

Arsip Berita