Rabu, 23 Mei 2012
Andi Arief: Indonesia Membutuhkan Mitigasi Bencana Terpadu
Minggu, 15 Mei 2011 14:49
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 15/5 (SIGAP) - Staf Khusus Presiden Bidang Bencana Alam dan Bantuan Sosial Andi Arief menilai Indonesia membutuhkan mitigasi bencana terpadu untuk mengantisipasi terulangnya bencana alam skala besar di masa mendatang.

Saat berbincang dengan sejumlah wartawan di Jakarta, Minggu, Andi Arief juga menekankan, bahwa dalam ilmu kebumian, salah satu konsep utamanya adalah memahami ancaman bencana di masa mendatang dengan mempelajari dari bencana serupa yang pernah terjadi di masa lampau.

"Bencana alam adalah produk dari siklus alam, seperti siklus gempa bumi, siklus letusan gunung api, siklus gerakan tanah atau siklus banjir dari skala kecil sampai dengan sangat besar atau katastropik," ujarnya.

Terkait dengan berbagai hal tersebut, menurut Andi Arief, pemerintah berupaya mempersiapkan tim dan mitigasi, baik sosialisasi maupun langkah kongkret terhadap persiapan menghadapi potensi bencana di berbagai tempat di Indonesia.

Tim tersebut antara lain secara berkelanjutan mengawasi potensi gempa besar berskala 8,9 Skala Richter di Siberut, "seismic gap" Jawa Selatan, Selat Sunda, dan lain sebagainya.

Khusus untuk potensi bencana di Selat Sunda, menurut Andi, telah berkali-kali terjadi bencana tsunami yang disebabkan oleh fenomena geologi, antara lain erupsi gunung api bawah laut Krakatau yang terjadi tahun 416, 1883 dan 1928.

Selanjutnya gempa bumi pada tahun 1722, 1852 dan 1958, juga tsunami akibat kegagalan lahan berupa longsoran baik dikawasan pantai maupun dasar laut pada tahun 1851, 1883 dan 1889.

"Kondisi geologi dasar laut Selat Sunda yang labil berpotensi menimbulkan bencana longsor apabila di picu oleh gempa bumi," ujarnya.

Dirinya menekankan semua pengamatan itu penting mengingat dampak yang diakibatkan akan berhubungan dengan kepadatan penduduk yang ada dalam zona risiko itu, termasuk di ibu kota Jakarta.

Andi Arief mengatakan, pemerintah berupaya membangun formula mitigasi berbasis historisitas untuk menggali dan menemukan kembali pengetahuan tentang solusi dan teknik pencegahan kebencanaan yang diyakini akan berguna di masa mendatang.

Upaya itu dilakukan dengan meneliti sumber-sumber bencana alam dan kejadiannya di masa kuno, khususnya yang katastropik dan mengakibatkan punahnya seluruh atau sebagian peradaban di wilayah nusantara.

"Studi ini penting agar masyarakat nusantara menjadi lebih paham akan ancaman bencana alam dan sejarah kuno di wilayah nusantara yang berkaitan dengan kejadian bencana alam katastropik," kata Andi Arief. (laporan budi/ant)

 

Arsip Berita