Rabu, 23 Mei 2012
Pertumbuhan Industri Kayu Turun Pasca Penerapan Perdagangan Bebas ASEAN-China
Rabu, 11 Mei 2011 02:00
AddThis Social Bookmark Button

Jakarta, 11/5 (SIGAP) - Kementerian Kehutanan (kemhut) mengakui, pertumbuhan industri kayu terus menurun terlebih pascapenerapan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-China sejak Januari 2010.

Sekretaris Jenderal Kemhut Hadi Daryanto di Jakarta, Selasa (10/5), mengakui bahwa industri kayu turun, tetapi hanya terjadi pada industri mebel yang kini memang sedang terpukul.

Sementara wood working (kayu pertukangan) dan pulp paper (kertas) tetap mengalami pertumbuhan, tegasnya.

"Dari dulu memang keseluruhan industri kayu negatif, namun furniture/mebel memberi sumbangan besar pada pertumbuhan yang minus itu," kata Hadi usai menghadiri acara penutupan diklat Manggala Agni.

Hadi Daryantyo mengatakan, kecenderungan turunnya industri kayu disebabkan pasar kayu Indonesia masih jauh tertinggal dengan China. "Memang kita kalah bersaing karena dari segi mesin dan infrastruktur, China lebih bagus, permodalan di negara itu juga lebih mudah dan bunga banknya lebih murah. Sementara industri kita tidak ada kemudahan kredit seperti itu." Meski demikian, Hadi mengatakan, dari segi bahan baku, Indonesia sudah cukup bersaing, juga untuk tenaga kerja dan inovasi cukup mampu bersaing.

"Indonesia kalah di mesin, modal perbankan, dan permesinan. Kita tidak punya keunggulan itu beda dengan China," katanya.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan mengatakan untuk persiapan kerja sama ACFTA, Indonesia harus bisa meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya alam (SDA) agar bisa bersaing dengan China.

"Kita jangan hanya ekspor bahan baku, tapi juga harus mampu mengolah agar nilai tambah tidak berpindah tempat," katanya.

Dirinya mengatakan, dibandingkan dengan ASEAN, Indonesia justru menjadi pemimpin dalam hal keunggulan sumber daya alam. Namun kalau dibandingkan dengan China sektor manufaktur memang tertinggal.

"Oleh karena itu, soal ACFTA kemarin sedang dilakukan pembicaraan ulang agar terjadi win-win solution. Diupayakan agar China tidak hanya ekspor ke Indonesia, namun juga mengimpor barang jadi dari Indonesia," katanya.

Menteri mengatakan, saat ini kerja sama ASEAN semakin hari semakin baik karena bukan hanya antarpemrintah, juga terjadi kontak antarpenduduk kawasan dan ini artinya melibatkan kerja sama rakyat.

"Memang untuk memenuhi pasar tunggal membutuhkan waktu yang lama, namun kalau kita penuhi dan laksanakan tentu akan jadi pasar yang luar biasa," katanya.

Hingga akhir 2010, realisasi ekspor rotan nasional mencapai 138 juta dolar AS. Nilai itu turun dari 2009 sebesar 167 juta dolar, sedangkan ekspor komoditas itu pada 2008 sebesar 239 juta dolar dan 2007 mencapai 319 juta dolar.

Menurut data Badan Pusat Statistik Mei 201, ekspor bubur kayu/Pulp sepanjang Januari - Maret 2011 turun 18,8 persen menjadi 384,6 juta dolar dari sebelumnya 270,9 juta dolar.

Kecenderungan penurunan itu terlihat dari nilai ekspor komoditas itu yang pada Maret 2011 mencapai 113,1 juta dolar menjadi 131,9 juta dolar dari April. (laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita