Rabu, 23 Mei 2012
Akibat Hujan Bibit Cabai Petani Di Pacitan Rusak
Selasa, 10 Mei 2011 03:21
AddThis Social Bookmark Button

Pacitan, 10/5 (SIGAP) - Sejumlah petani cabai di Kabupaten Pacitan terancam merugi setelah hujan deras kembali mengguyur kawasan tersebut selama beberapa hari terakhir dan mengakibatkan bibit tanaman mereka mulai rusak.

"Kalau begini terus (hujan), tanaman cabai kami bisa mati," kata salah seorang petani di Desa Banjarjo, Kecamatan Kebonagung, Susilo, Selasa (10/5).

Susilo lalu menunjuk sebagian tanaman cabainya di area persawahan yang kini daunnya mulai menguning. Beberapa batang pohon di area yang sama bahkan telah mengering dan mati.

Susilo mengatakan, satu-satunya cara mengatasi kerusakan semacam itu adalah dengan menyulam, yakni mengganti tanaman yang mati ataupun mulai menguning dengan bibit tanaman cabai yang baru.

"Tapi kalau cuaca tetap tidak menentu seperti ini, hasilnya tidak mungkin bisa maksimal. Kalaupun bisa tumbuh, ukurannya pasti lebih kecil dibanding yang lain," ujar dia.

Petani muda ini menjelaskan, curah hujan tinggi juga membuat pertumbuhan tanaman terganggu. Meski akhirnya bisa berbuah, namun perlu waktu lebih lama dibanding ketika tanam pada musim kemarau.

Selain masalah hujan, petani juga disibukkan dengan munculnya rumput penganggu di sekitar tanaman cabai, katanya.

"Karena itu hampir setiap hari kami (petani cabai) selalu berusaha menyempatkan diri menengok ke sawah. Merawat tanaman cabai seperti merawat bayi, teledor sedikit saja akibatnya bisa fatal," sambungnya.

Anik, petani lainnya mengatakan, jika tanaman cabai miliknya mati, dirinya hampir bisa dipastikan akan merugi. Sebab untuk menanam cabai pada ladang seluas 12 meter persegi saja, dirinya sudah mengeluarkan ongkos lebih dari Rp500 ribu.

Biaya produksi tersebut digunakan untuk membeli bibit dan pupuk. "Bibit sekarang masih mahal. Untuk 1.000 batang bibit cabai harganya sekitar Rp200 ribu," kata Anik memberi gambaran.

Data di Dinas Tanaman Pangan Dan Peternakan setempat menyebut selama kurun 2009-2010 produksi cabai turun.

Pada tahun 2009 produksi perasa pedas itu sebanyak 626 ton dari lahan seluas 335 hektare. Tetapi pada tahun 2010 turun sekitar 50 persen menjadi 314 ton dari luasan lahan 242 hektare. Namun sebaliknya produksi cabe merah besar naik dari 294 ton menjadi 451 ton.

Selain Kecamatan Kebonagung sentra penghasil cabai berada di Kecamatan Bandar.(laporan roesman/ant)

 

Arsip Berita